Jalan-jalan dengan Anak-anak: Edisi Eropa

Akhirnya kembali lagi menulis blog! Karena ceritanya baru pulang dari jalan-jalan dengan anak-anak (dan mertua, dan adik ipar, dan suaminya…), dan rasanya banyak bangeet yang mau dishare. 🙂

Perjalanan kemarin berkesaaan sekali karena banyak hal. Pertama, ini kali pertama jalan-jalan jauh dengan Triya (7,5 thn), Reina (5,5 thn), dan Yusuf (1,5 thn) untuk waktu yang lamaaa – 3 minggu. Kedua, perjalanan ini juga bukan cuma kita sekeluarga saja, tapi juga sama ayah dan mamah mertua, dan adik ipar plus suaminya. Jadi total jenderal kita serombongan ber-9 sajaa! Ketiga, karena jumlah rombongan yang besar dan banyak anak-anak dan orang tua, kami memutuskan bahwa mobilisasi antarkota selama di Eropa juga tidak pakai kereta melainkan sewa mobiiilll… Jadi, walaupun ini bukan kali pertama saya dan Ei bepergian ke Eropa, tapi deg-degan dan persiapannya terasa lebih mantull dibandingkan perjalanan-perjalanan sebelumnya. Jadi, karena banyaknya persiapan dan pengalaman baru, hadirlah blog post ini! Semoga membantu teman-teman yang mau traveling yaa!

Persiapan

  • Visa

Tujuan perjalanan kemarin cukup ambisius. Ada 5 negara yang mau dikunjungi, yaitu Perancis (Paris), Inggris (London), Jerman (Hamburg & Koln), Belgia (Antwerp), dan Belanda (Amsterdam). Jadi, visanya pun harus apply ke 2 negara, yaitu Perancis untuk visa Schengen (karena kota pertama dan terlama yang dikunjungi adalah Paris) dan Inggris. Proses aplikasi visa ini kita mulai sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan, yang ternyata MEPET! Jadi, saran saya, kalau harus apply 2 visa, mulailah paling lambat 3 bulan sebelumnya yaah.

Untuk aplikasi visa Schengen Perancis, ada agennya sendiri, yaitu TLS. Prosesnya tidak terlalu sulit, tapi memang ada banyak dokumen yang harus dipersiapkan. Detailnya sendiri silakan ditelaah di situs TLS yaa.. Sementara untuk aplikasi visa Inggris, mendaftar untuk wawancara via VFS Global, tetapi pengisian formulir dilakukan online di situs ini. Yang perlu dicatat adalah, pada saat wawancara visa Inggris ini anak-anak pun tetap harus ikut. Jadi, berbeda dengan wawancara visa Amerika, atau Schengen, saat wawancara kemarin Triya, Reina, Yusuf tetap harus datang dan difoto langsung di VFS.

  • Bagasi

Berhubung perjalanannya lama, rasanya nggak mungkin kalau harus bawa pakaian untuk 3 minggu. Maka kami memutuskan untuk membawa baju untuk 5 hari. Artinya, untuk saya dan Ei kita bawa 5 atasan + 2 bawahan; dan untuk anak-anak bawa 5 atasan + 4 bawahan plus 1 set baju ganti lengkap yang selalu dibawa di dalam tas ransel masing-masing (kecuali punya Yusuf yeee, adanya di ransel Ei.. heuheuehuehe). Jadi, setiap 3-4 hari kita harus mencari laundromat dan mencuciii!! Agak ribet memang, tapi yaa, daripada tempat di koper dipakai untuk bawa bau selama 3 minggu, lebih baik tempatnya dipakai untuk bawa belanjaan dan oleh-oleh, ya kaaann??

Selain itu, untuk mempermudah perjalanan menuju Eropa, kami memutuskan untuk membawa satu koper kosong dengan metode ‘nesting’. Jadi, koper ukuran sedang dimasukkan ke dalam koper ukuran besar, dan barang-barang diisikan di dalam koper ukuran sedang. Sehingga, koper ukuran besar praktis masih kosong, dan nantinya bisa diisi belanjaan dan oleh-oleh. Metode ini selalu sukses diterapkan, dan bagi kami sangat membantu mengakomodasi hasrat belanja yang sering menggebu-gebu… #eh

  • Stroller, stroller board, dan keperluan Yusuf

Karena Yusuf masih pakai popok, dan saya biasa memakai pospak, maka kami membawa popok Yusuf dari Indonesia. Pertimbangannya? Karena jika kami beli popok di sana, belum tentu Yusuf cocok dengan merek yang ada. Selain itu, popok juga tidak terlalu berat dan bisa disempil-sempilin di sana-sini jadi tidak makan tempat. Lalu seiring dengan waktu juga dia lama-lama habiiss.

Selain popok, keperluan Yusuf yang juga kami bawa dari Indonesia adalah susu ultra mimi, supaya kalau dia sedang duduk di car seat dan nggak bisa nyusu langsung dia bisa tetap menikmati minum susu. Untuk cemilan, kami memutuskan untuk bawa secukupnya untuk di pesawat saja dan selebihnya beli di sana saja karena pastinya lebih menarik dan beragaam.

Untuk perjalanan ini, kami memutuskan untuk menyewa stroller dan stroller board Yoyo. Setelah sebelumnya pernah menyewa Yoyo juga untuk traveling, kami merasa bahwa stroller ini adalah pilihan yang terbaik. Selain karena bisa masuk ke dalam cabin pesawat, stroller ini juga kalau dilipat tidak makan terlalu banyak tempat di bagasi, dan ketika dibuka keranjang di bawahnya bisa diisi cukup banyak barang dan rangkanya juga cukup kokoh dan kuat (untuk digantungi belanjaaan, hahahahaha).

Karena kami tahu Reina kadang belum kuat jalan terlalu banyak, dan bisa tidur di mana saja dan kapan saja, maka kami juga memutuskan untuk menyewa stroller board, supaya kalau kepepet bisa ada 2 anak di stroller. Ternyata, memang ini adalah keputusan yang tepaaatt, karena biar bagaimanapun, perjalanan di Eropa pasti membuat kita banyak berjalan kaki kemana-mana, dan dengan stroller board ini Triya & Reina bisa gantian duduk di belakang supaya nggak terlalu capek. Naah, untuk penyewaan stroller dan stroller board ini kami sewa di Minyominyo, dan puaas. Sudah 3 kali, 3-3nya hepi!

  • Transportasi

Berhubung perjalanan ini pesertanya banyaaak, jadi metode transportasi – baik dalam kota maupun antarkota –  menjadi salah satu pertimbangan utama kami. Mengingat ada 2 anak, 1 batita, dan 2 orang tua, maka kami memutuskan menyewa mobil 9-penumpang adalah pilihan terbaik. Perjalanan naik kereta antarkota juga kami tiadakan, karena siapaaa bookk yang bisa angkat-angkat koper kita ber-9?? hahaha.. Rute Paris-London yang bisa ditempuh dengan kereta api juga akhirnya kami ganti dengan naik pesawat. Selebihnya menyewa mobil.

Selama perjalanan kemarin, kami menyewa mobil 3 kali – di Paris, London, dan Hamburg-Amsterdam. Dari tiga kali sewa mobil, 2 kali menggunakan Sixt, dan Ei puas banget dengan pelayanannya. Mobilnya besar dan bersih (alhamdulillah dapat Ford Tourneo), carseat juga sudah disiapkan di mobil dan masing-masing dalam keadaan yang bersih dan masih dibungkus plastik (bukan baru ya, tapi kayaknya habis dicuci gituu), jadi kami cukup rekomendasi penyewaan mobil Sixt. Mobil Ford Tourneo sendiri jugaaa pas banget untuk 9 penumpang, termasuk bagasi kami yang cukup banyak. Pas pulang, ada 12 koper dan 2 stroller, dan muat semua di bagasinya. Dibandingkan dengan Mercedes V-Class, ruang duduk dan bagasinya jauh lebih besar Ford Tourneo.

Nah, berhubung kayaknya baru persiapan aja udah panjaaaang, kita lanjut di postingan berikutnya yaa mengenai perjalanannya sendirii.. :))

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s