Ya, saya pernah jadi korban pelecehan seksual.

Sekitar 3 minggu yang lalu, saya diundang oleh seorang teman untuk jadi moderator di salah satu workshop yang diselenggarakan oleh Komnas Perempuan. Karena tema workshop-nya relevan dengan kompetensi saya – komunikasi, tentunya – jadi tawaran tersebut saya terima dengan senang hati.

Di workshop dua hari tersebut hadir teman-teman perwakilan dari 21 organisasi mitra Komnas Perempuan yang bersama-sama berjuang untuk dua hal utama: menghapuskan kekerasan seksual terhadap perempuan dan menggolkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual agar segera dibahas dan disahkan di tingkat legislatif. Tema workshop kali itu adalah menggodok dan menyepakati tema besar, pesan kunci, serta rencana tindak lanjut untuk kampanye tahunan nasional 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16HAKTP). Jujur, sebelum workshop ini saya hanya pernah mendengar laksana angin lalu soal kampanye ini. Padahal isunya sedemikian penting. My bad.

Dua hari diskusi intensif dengan teman-teman dari seluruh Indonesia yang hari-harinya mengurusi masalah ini bikin saya merasakan dua hal: sedih dan marah. Sedih karena masalah ini masih jauuuuuhh sekali dari tuntas (like many other problems in our beloved country)  dan teman-teman yang bergerak di bidang ini kerjanya luar biasa berat. Marah karena kok kita masih aja nyangkut di sini, masih ada banyak orang yang tidak acuh, masih banyak laki-laki yang menganggap perempuan sebagai objek belaka, dan masih banyak lagi.

Diskusi panjang lebar itu juga membuka mata saya bahwa salah satu langkah pertama dan utama untuk menuntaskan masalah ini adalah dengan mulai berbicara. Kenapa? Karena jangankan soal kekerasan seksual, masalah seks yang tanpa kekerasan saja masih jadi topik yang tabu di negara ini. Banyak orang memilih untuk diam karena banyak hal: karena merasa kejadian yang dialami bukanlah suatu bentuk pelanggaran, apalagi kekerasan; karena merasa tidak ada gunanya kalau berbicara; karena malu dan takut di-judge (heck, we’re one hell of a judgmental society); atau karena diam itu lebih ‘aman’. Karena itu juga, ketika kita berbicara tentang jumlah laporan tindak kekerasan seksual, angkanya tidak pernah angka riil. Itu adalah angka berdasarkan adanya laporan. Dari orang-orang yang memutuskan untuk bertindak atas kejadian buruk yang mereka alami. Sebagian lainnya masih belum bisa mendapatkan privilege itu, dan masih belum bisa melapor.

Pulang dari workshop itu, saya jadi ingat kejadian yang pernah saya alami belasan tahun lalu, dan belum pernah saya ceritakan pada siapapun sebelumnya. Entah juga kenapa. Mungkin karena belasan tahun lalu itu saya tidak sepenuhnya paham tentang apa yang terjadi, mungkin karena saya bingung harus cerita ke siapa, dan kalau sudah cerita, terus apa? Pada saat itu, bercerita terasa tidak ada gunanya, dan mungkin pemikiran itu juga yang mendasari keputusan ribuan korban lain yang tidak pernah berbicara mengenai apa yang mereka alami.

Now let’s cut the dramatic and get to the point, Nena.

Bukan, saya bukan diperkosa. Dan, percaya atau tidak, kekerasan seksual itu ada banyak bentuknya – bukan hanya pemerkosaan. Komnas Perempuan menerbitkan sebuah pengenalan terhadap 15 jenis kekerasan seksual, dan sebaiknya kita tahu apa-apa saja 15 hal tersebut. Yang pernah saya alami, 2 kali, sayangnya, adalah pelecehan seksual.

Pelecehan seksual:Tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Ia termasuk menggunakan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

15 Jenis Kekerasan Seksual

Yang pertama, kejadiannya waktu saya masih SMP, sekitar tahun 1997-1999, lupa pastinya. Yang saya ingat dengan jelas adalah tempat kejadiannya, yaitu di sebuah pasar malam di Pamulang (iya, dulunya anak Pamulang, nih.. 😀 ), tepatnya di wahana rumah hantu. Pada masanya, rumah hantu dulu beken banget, dan namanya anak SMP ya suka penasaran gitu lah. Saya masuk bersama adik-adik dan ART yang juga penasaran pingin tahu seperti apa rumah hantunya. Walaupun masuknya bareng-bareng, tetapi saat di dalam, kami tetap harus berjalan beriringan depan-belakang. Dalam perjalanan di tengah kegelapan dan hantu-hantuan alay, tiba-tiba ada tangan kurang ajar yang meremas vagina saya, yang pemiliknya berjalan dari arah sebaliknya. Kejadiannya berlangsung cepat sekali, sedetik saja, dan sambil menelan kaget dan syok saya terus berjalan mengikuti rombongan saya. Needless to say, pelakunya entah siapa. Di dalam gelap, saya harus terus berjalan ke arah yang berlawanan. Dan, sudah, berakhir begitu saja.

Kejadian yang kedua waktu saya SMA, ketika harus jadi komuter Pamulang-Blok M dan jadi pelanggan setia Metro Mini 79 atau Patas 21. Waktu itu saya pulang sekolah, naik Metro Mini, dan saya duduk di bangku paling belakang. Tak lama, ada seorang bapak-bapak yang naik dan berdiri di belakang saya. Awalnya biasa saja, tapi kok lama-lama si bapak-bapak ini makin nempel ke punggung saya. Dan lama-lama berasa ada yang keras. Yak, dia ereksi, sodara-sodari! Berhubung kursi penuh semua dan perjalanan masih panjang, saya hanya bisa duduk lebih tegak lagi, tanpa bersandar pada kursi. Lagi-lagi, saya nggak tahu harus berbuat apa.

Ketidakberdayaan saya menghadapi dua kejadian ini membuat saya merasa putus asa. Kalau saya yang cuma menghadapi kejadian begini saja, nggak tahu harus ngapain, terus yang dihadapkan pada kejadian yang lebih parah bisa apa? Kalau saya yang sekolah sampe kuliah saja, nggak tahu harus berbuat apa setelah kejadian, lalu bagaimana yang lain? Jadi, itulah alasan utama mengapa saya memutuskan untuk #mulaibicara, supaya lebih banyak orang tahu, dan peduli, dan bertindak.

Harapan saya, ada yang berinisiatif membuat infografik yang mudah dibaca, dipahami, dan disebarkan tentang 15 jenis kekerasan seksual; sehingga semua orang tahu ketika dia menjadi korban, atau melihat orang lain menjadi korban; sehingga semua orang sadar bahwa cat-calling adalah salah satu bentuk kekerasan seksual yang punya dampak (mungkin permanen) pada korban, dan mereka berhenti berniat menjadi pelaku sebelum mereka jadi pelaku.

Harapan saya, ada yang berinisiatif menyebarkan informasi singkat dan jelas tentang apa yang harus dilakukan ketika menjadi korban atau melihat orang lain menjadi korban kekerasan seksual. Apakah saya harus teriak? Diam? Mengkonfrontasi? Atau apa? Sejujurnya, saya clueless.

Harapan saya, ada orang lain yang merasa tergugah untuk juga #mulaibicara, sehingga semua orang tahu bahwa masalah ini bukan hanya masalah segelintir orang, tapi masalah kita bersama. Dan kita bisa #gerakbersama untuk menghapus masalah kekerasan seksual; mendorong pemerintah untuk menggodok RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, supaya pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal, dan korban mendapatkan dukungan dan rehabilitasi yang sesuai dan bukan malah mendapatkan victim-blaming dari lingkungan sekitarnya.

Harapan saya, dengan tulisan kecil ini jadi ada semakin banyak orang tahu, semakin banyak orang bicara, semakin banyak orang peduli, semakin banyak orang mendukung, dan akhirnya, semakin banyak orang bertindak. Karena itu, yuk, kita tunjukkan dukungan kita agar isu isi jadi prioritas pemerintah lewat tautan berikut: Petisi RUU Penghapusan Kekerasan SeksualLet’s save this country.

*) #mulaibicara adalah tagar yang digagas oleh Lentera Sintas Indonesia, dan #gerakbersama adalah tagar yang digagas bersama oleh Komnas Perempuan dan organisasi-organisasi mitranya untuk menyuarakan Kampanya 16HAKTP 2016. 

*) header image credit: http://chrismartinwrites.com/wp-content/uploads/2016/02/14.ilerde.yakalanma.jpg

Advertisements

One thought on “Ya, saya pernah jadi korban pelecehan seksual.

  1. Diah eres says:

    Thank you for posting this article, mbak😀
    Saya jadi tau pelecehan seksual seperti apa, because it happened once in my life n i don’t know apakah itu pelecehan atau bukan. After reading this article, I know exactly that it was a sexual assault.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s