US Trip Part 1: CGK-JFK dan Terbang 24 Jam

Waktu mulai hamil Triya, salah satu hal besar yang jadi pikiran saya adalah soal traveling. Karena udah hamil, so there goes my chance of traveling… Apalagi kalau nanti sudah ada anak – wah, pasti harus nunggu anaknya agak besar sedikit baru bisa diajak jalan-jalan ya?? Tapi ternyata, where there is will and opportunity (ya iya laahh), there’s a way… Nena, Ei dan Triya went to the US!!! #lebay

Hehe, yah, maaf kalo postingan ini teramat sangat lebay, karena maklum, belum pernah ke Amerika, plus, ini bawa Triya yang kemarin masih 8 bulan. So, there were sooo many stories!

Visa Triya

Persiapan perjalanan dimulai dari pembuatan visa Triya. Sekarang aplikasinya semua harus dilakukan online, lewat website ini. Semua informasinya lengkap – if only you are willing to read thoroughly and carefully. 🙂 Prosesnya kalau sedang tidak banyak yang apply makan waktu sekitar 5-10 hari kerja. Triya apply di bulan September akhir, jadi  jadwal interview bisa dapat dalam 1-2 hari, dan visanya sudah selesai dalam waktu seminggu saja. Dulu waktu saya apply, pas bulan Juni awal, jadi rame banget, dan untuk dapat jadwal interview aja harus nunggu 2 minggu. Well, I guess, ini rejekinya Triya… 🙂

Satu hal lagi yang worth noting adalah karena Triya masih di bawah 13 tahun, jadi untuk interview visa dia nggak perlu datang sendiri. Cukup orang tua atau wali yang sah aja yang datang untuk interview. Berhubung kebetulan saya dan Ei sudah punya visa, jadi cukup bawa passport kami berdua aja untuk ditunjukin di loket interview, dan akte kelahiran Triya sebagai bukti kalau Triya itu benar anak kami berdua. Hehe.

Persiapan terbang 24 Jam

Setelah visa di-approve, tiket dibeli. Sempet mikir untuk terbang naik Qatar yang murah buanget – sekitar USD8,000 (total ber-7, 4 dewasa, 1 anak, 2 infant – yes, we were a big traveling party!!). Tapi transitnya 2 kali, di Doha dan di Belgia, dan kemungkinan harus apply visa lagi untuk Belgia. Scratch that option. Akhirnya pilihan jatuh ke Cathay yang sedikit lebih mahal, tapi cuma transit 1 kali di Hong Kong dan kita nggak perlu visa lagi.

Untuk persiapan terbang selama 24 jam tersebut, saya sempat nanya-nanya via Twitter ke orang-orang. Akhirnya dapat tips dari 2 orang yang pernah (dan beberapa kali, bahkan!) traveling ke US dengan bayi di bawah 1 tahun. Berikut tips-nya yaa…

  • Don’t stress out. Karena kalau mamanya stress dan nggak tenang, nanti anaknya juga akan stress dan nggak tenang… 🙂
  • Bayi harus menelan pas take-off, dan descending. Untuk landing, berdasarkan pengalaman, nggak terlalu perlu, karena tekanan udaranya berubah justru pas descending – sekitar 45 menit sampai 15 menit menjelang landing. Triya biasanya cranky pada saat descending, tapi pas landing happy-happy aja. Kalau bayinya masih ASIX, disusuin aja. Kalau sudah bisa makan solid food, bisa makan biskuit atau snack aja.
  • Bawa pampers yang BUANYAAK! Entah kenapa, kalau lagi terbang, Triya jadi sering banget pup! Hehe.. Dalam perjalanan 14 jam, dia pupi 4-5 kali! Mungkin karena perbedaan tekanan udara kali yeee..
  • Bawa pengalih perhatian yang sedang-sedang saja jumlahnya. Misalnya mainan 3 buah, snack 2 kontainer kecil. Berhubung Triya cepet bosen, jadi dia lebih senang main-main dengan benda-benda selain mainannya.
  • Bawa makanan bayi yang cukup dan gampang dibawa-bawa. Misalnya, makanan bayi Heinz atau Gerber. Walaupun sudah order makanan bayi di pesawat, belum tentu dapat, dan kalau pun dapat, belum tentu sesuai dengan umur anak…
  • Bawa tisu kering dan basah yang cukup. Kemarin saya bawa tisu basah yang ukuran besar, dan tisu kering yang kemasan traveling itu – bukan yang kemasan kecil dan tisunya dilipat-lipat, jadi gampang, tinggal langsung tarik aja kalau ada yang perlu dilap.
  • Bawa baju ganti yang cukup. Kemarin saya bawa 2 – 1 untuk ganti di Hong Kong, dan 1 untuk ganti di JFK
  • Berhubung di pesawat suka dingin, jadi kemarin Triya pakai baju 2 lapis. Lapis pertama: onesie plus legging; lapis kedua: baju tidur model jumper tutup kaki gitu. 🙂 it worked very well!

Nah, kira-kira demikian yang bisa di-share untuk persiapan terbang yang luamaaa itu. Setelah itu, it’s D-Day!

Penerbangan 24 jam itu…

….ternyata cukup manageable! Tapi, emang support system itu penting. 🙂 Buat saya, support system terpenting saat itu adalah Ei. Knowing that he’s there with me – helps a lot. Jadi ada yang bisa gantian gendong Triya, bantuin nyuapin, nemenin pas ganti popok ke kamar mandi yang sempit itu, and just for holding your hand when you’re tired. 🙂 Selain Ei, support system kedua adalah kakak ipar saya dan keluarganya yang juga ikut traveling bareng kita (jadi, sebenarnya trip ini adalah business trip Ei dan kakaknya, tapi keluarganya pada ngintil… Hehe). Seeing them sitting next to us, just as tired, dan kadang-kadang anak-anaknya agak cranky – juga helps a lot. Untuk tahu bahwa kita nggak sendirian kok… Dan nantinya kita bisa saling cerita, menghibur, dan ketawa. 🙂

Selama di perjalanan, Triya sama sekali nggak rewel. Berhubung flight kita jam 00.15, jadi dari jam 9, Triya udah tidur dan baru bangun pas mau boarding. Menjelang take off, Triya nenen, habis itu tidur lagi. Dia bangun setiap 2-3 jam untuk nenen atau makan, sisanya dia main-main. Kadang di atas pangkuan saya atau Ei, kadang kita dudukin aja dia di lantai pesawat, hehe.. She seemed to enjoy it very much!

Untuk masalah makan, emang harus 2 orang. Jadi 1 orang megangin Triya, dan 1 orang lagi nyuapin Triya. Atau, 1 orang megangin Triya, dan 1 orang lagi nyuapin bapak atau ibunya… Hehe.. Susah soalnya kalau harus makan sendiri-sendiri. Atau, ya, gantian makannya dan megangin Triyanya.

Untuk kenyamanan, kalau traveling jarak jauh bawa anak kecil atau bayi, sebaiknya begitu udah booking tiket, langsung telpon airline-nya, minta kursi bassinet. Terlepas dari apakah nanti bassinetnya akan dipakai atau nggak, tapi the extra leg room sangat bermanfaat… 🙂 Berdasarkan pengalaman kita, baby bassinet is good to have… Untuk dipake naruh bayi pas lagi main-main atau mau disuapin. Tapi kalau lagi tidur, lebih baik dipangku aja. Karena kalau ditaruh di baby bassinet, pas lagi ada turbulence dan harus pakai seat belt, bayinya harus diangkat dari baby bassinet, dipangku, dan dipakaiin seat belt juga. Jadi kasihan kalau lagi tidur, jadi kebangun-kebangung… Lebih baik dipangku aja, dan udah langsung dipakaiin seat belt.

Jadi, kesimpulannya, ternyata terbang dengan bayi selama 24 jam itu nggak terlalu menyeramkan kookk.. Jadi kalau mau bawa bayinya jalan-jalan ke Amerika bulan depan, go ahead and enjoy the holiday!!!

Advertisements

5 thoughts on “US Trip Part 1: CGK-JFK dan Terbang 24 Jam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s