Triya atiiiiittt!!!

As the saying goes, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga – demikian juga halnya dengan anakku tercintah. Sesehat-sehat Triya, akhirnya sakit juga. πŸ™‚ Memang sih, bukan topik yang super-duper menyenangkan ataupun istimewa, but I think it’s worth sharing. πŸ˜€

Berawal dari imunisasi campak Triya sekitar 10 hari yang lalu. Karena vaksin campak itu adalah virus campak yang dilemahkan, jadi ibu dokter nanya apakah Triya sakit – misalnya flu atau batuk. Pada saat itu Triya sama sekali nggak menunjukkan tanda-tanda sakit, dan nggak habis sakit, jadi dengan yakin saya dan Ei menjawab, “Nggak dok, sehat, alhamdulillah…”. Ibu dokter pun tersenyum lebar, dan njuussss, in goes the vaccine.

Imunisasi hari Selasa – hari Rabu Triya masih cengar-cengir. Kita berdua udah happy-happy, karena sebelumnya sudah diperingati sama ibu dokter kalau setelah imunisasi campak ada kemungkinan demam atau diare atau muntah – dan setelah sehari ternyata Triya baik-baik saja.

Then comes hari Kamis. Triya mulai diare. Antara jam 3 sore sampai jam 6 sore, 3 kali diare – very runny stools juga. Selera makannya langsung menurun. Sekitar jam 7, setelah nenen dan cemil-cemil biskuit (that was the only thing she wanted to eat), mendadak muntah. Jam 8, tiba-tiba badannya mulai anget. Suhunya saat itu 39.4. Langsung dikasih Tempra, dan diminumin Pharolit yang memang sudah diresepin sama ibu dokter. Habis itu tidur.

Lewat tengah malam Triya diare lagi. Suhu badan belum menurun juga. Hari Jumat pagi suhunya 39.8, dan kita kasih Tempra lagi. Akhirnya menjelang siang suhunya turun, dan sore sudah 37.5. Pada saat itu kita lega banget karena demamnya sudah turun, walaupun diare masih terus berlanjut dengan frekuensi yang berkurang.

Selama hari Jumat-Selasa, Triya pupnya masih terus menerus cair konsistensinya. Frekuensinya antara 2-4 kali sehari, yang masih belum dikategorikan parah. Jadi tetap dinenenin, dicoba diminumin Pharolit, dan minum air putih yang sering. Diarenya sebenarnya bukan concern yang paling mengkhawatirkan, melainkan bahwa dia nggak mau makan. Selama 5 hari itu Triya hanya mau makan biskuit Marie Regal dan roti tawar. Kadang sejumput kecil nasi tim atau nasi. Disuapin udah sama sekali nggak mau. Padahal sebelumnya Triya paling juara soal makan… Jadi itu bener-bener bikin saya dan Ei khawatir. Tapi akhirnya kita menyimpulkan bahwa selama dia mau makan (apapun itu…) dan nenen dan minum air putih sedikit-sedikit – it’s alright. Kita jadi cuma monitor apakah dia dehidrasi atau nggak – dan kalau masih oke, it’s ok… (ya iya laaah… heuheuhe..)

Nah, pencerahan datang di hari Minggu sore, waktu bbm-an sama kakak ipar. Karena sudah 4 hari diare, akhirnya saya dan Ei sempat kepikiran bahwa mungkin Triya masuk angin, karena gejalanya adalah gejala masuk angin: diare dan muntah. Jadi saya bilanglah ke kakak ipar kalau Triya kayaknya masuk angin. Solusi dari kakak ipar saya adalah: dibalurin aja pakai bawang merah yang diiris-iris dicampur sama minyak telon. Ha! Why did I not think of that???

Bawang merah pun diiris-iris, dicampur danΒ dibejek-bejek sama minyak telon, dan dibalurin ke perut, dada, punggung dan pantat Triya. Supaya perutnya lebih enak, Triya juga dipakaiin daun jarak yang dibakar sedikit pakai lilin sampai daunnya lemas, dan diolesin minyak telon, terus ditempel di perutnya. Habis itu Triya pakai kaos singlet dan baju tidur (biasanya nggak pernah pakai kaos singlet soalnya.. πŸ˜€ ) Setelah itu, I’m crossing my fingers.

Nggak lama – duuutt! Anaknya kentut, hehe.. Tapi masih ada ‘temen’nya yang ikut. Hari Senin, kelihatannya udah mulai lumayan. Frekuensi pup menurun, kuantitasnya juga. Selera makan masih terbatas. Hari Selasa, baluran bawang dan daun jarak masih berlanjut. Selera makan mulai meningkat sedikit, tapi belum mau makan yang lain selain roti dan biskuitnya.

Hari Rabu – saya dan Ei harus ke Jakarta, jadi dengan berat hati Triya harus diboyong lagi. Alhamdulillah, hari ini diarenya berhenti, dan selera makannya makin membaik. Sudah mau makan nasi tim sedikit, pepaya, mangga, dan roti. Minumnya banyak. Mainnya juga makin banyak. Begitu lihat dia makan mulai agak banyak – legaaaa banget rasanya.

Hari Kamis, makannya mulai banyak lagi, tapi sama sekali nggak mau disuapin, hehe… Maunya makan sendiri. Jadilah semuanya harus ‘prasmanan’ – bola-bola nasi, nasi tim yang dipadatkan jadi gunung-gunungan kecil, potongan buah dan potongan roti. Satu-satu diambil dan dicoba sama Triya, dan dia mulai happy lagi.

Hari ini, all izz well!! Kita semua lega dan senang karena Triya udah kembali normal – walaupun kalau makan maunya makan sendiri. πŸ™‚

Jadi, kesimpulannya, bawang merah, minyak telon, dan daun jarak itu ampuh!!! πŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s