24 Januari 2012 – the day my life starts anew

Triya lahir tanggal 24 Januari 2012 jam 02.28 dini hari, di KMC. Berat badannya 2530gr, dan panjangnya 46cm. Hari itu adalah hari pertama di tahun Naga – yang katanya bawa hoki, amiiin… Sekarang Triya sehat, alhamdulillah. Tapi kelahiran Triya tidak semulus yang diharapkan. Sejak tanggal 22 Januari pagi ternyata ketuban saya sudah pecah – without me realizing it. Baru ketahuan kalau ketubannya sudah tua pada saat Triya lahir dan ternyata air ketuban saya sudah berwarna hijau dan sudah kental… Akibatnya, Triya tidak langsung menangis, dan harus disedot dulu paru-parunya untuk mengeluarkan sisa air ketuban yang mungkin tertelan.

Setelah paru-parunya bersih, Triya menangis kencang, dan langsung dibawa ke ruang perinatal untuk observasi nafasnya. IMD (Inisiasi Menyusui Dini) jadi terpaksa tidak dilakukan, dan setelah selesai saya pun dikirim ke kamar untuk istirahat.

Sekitar jam 10, Ei dan saya dipanggil dan diberi tahu bahwa kondisi Triya masih belum prima. Nafasnya sudah normal, tetapi masih hipotermia sehingga harus diletakkan di dalam inkubator dulu. Sore harinya, suhu Triya sudah stabil, tapi Triya kuning dan kadar bilirubinnya mencapai 13,5 (normalnya di hari pertama hanya 5, dan biasanya baru mulai kuning di hari ketiga). Triya pun harus menjalani terapi sinar dan disuntik antibiotik 2x sehari. Rooming in was definitely not an option.

Dokter yang menangani Triya waktu itu menyatakan dia merasa kurang tepat untuk melanjutkan perawatan Triya dan mengusulkan agar Triya dialihrawatkan ke dokter lain yang spesialisasinya bayi baru lahir / perinatolog. Bikin drop? Jelas. Tapi keyakinan harus tetap ada dooong.. 😀 Jadilah Triya alih rawat ke dokter Anita – dan Ei dan saya sepakat bahwa itu adalah salah satu keputusan terbaik yang dibuatkan untuk kita bertiga. Dokter Anita orangnya sangat lugas, tapi hangat. Penjelasannya komprehensif, dan bicara dengan kita tanpa ada nada yang merendahkan sama sekali. Orangnya juga positif, banyak senyum, dan banyak ngobrol. Bottom line, kami berdua puas banget sama dokter Anita dan semua keputusan yang direkomendasikan ke kita berdua sehubungan dengan Triya.

Terapi Sinar

Mulai hari kedua, Triya disinar. Karena kadar bilirubinnya yang sangat tinggi, lampunya nggak tanggung-tanggung pakai 3 lampu. Kenapa 3 lampu? Untuk membantu badan Triya “mengalahkan” bilirubin dan mengeluarkannya lewat pup-nya. Karena fungsi hati bayi baru lahir belum optimal, maka sel darah kuning umumnya meningkat.

Di kasus Triya, peningkatan kadar bilirubin yang sangat tinggi itu kemungkinan ditambah lagi dengan air ketuban yang sudah pecah dan mulai “tua” – makanya tubuh Triya langsung kontak dengan racun dan/atau virus yang ada dari luar (karena fungsi air ketuban dan membrannya antara lain adalah menjaga agar bayi tetap intact dari dunia luar yang penuh marabahaya… 😀 ). Karena itu, ada kemungkinan Triya juga terkena infeksi. Cara untuk mengetahui infeksinya adalah dengan tes darah yang hasilnya baru bisa dilihat dalam 2 hari. Dokter Anita memutuskan bahwa dia tidak mau mengambil resiko menunggu hasil tes darah, baru kemudian memberikan antibiotik karena takut sudah terlambat. Jadi, Triya pun disuntik antibiotik 2x sehari.

Setelah menjalani terapi sinar dua hari, kulit Triya mulai terlihat lebih putih, tidak lagi kuning. Yang kuning hanya pada daerah sekitar mata yang ditutup saat disinar. Agak sedih melihatnya, rasanya kok dia nggak boleh lihat dunia ya? Dan karena sinarnya intensitasnya tinggi, kulit Triya kering dan sedikit mengelupas. Disinar juga membuat Triya cepat haus, jadi suplai ASI harus banyak. Pada 2 hari pertama Triya minum 20ml sekali minum, sekitar 12 kali sehari. Hari berikutnya ditambah menjadi 25ml, kemudian 35ml sekali minum.

ASI?

Jadi, pada 2 hari pertama setelah Triya lahir, ASI saya baru keluar sedikiiiit sekali. Tapi dokter laktasi dan bidan di KMC semua bilang bahwa ASI yang hanya keluar seiprit itu pun tetap harus ditampung dan diberikan ke Triya karena ASI pertama itu banyak mengandung sebuah zat ajaib yang bernama kolostrum. Jadi, hihi, cara saya menampung ASI yang hanya 2 tetes itu adalah dengan menggunakan suntikan yang dilepas bagian jarumnya! Jadi ASInya dihisap ke dalam tabung suntikannya, dan nanti tinggal di”suntik”kan saja ke Triya!

Selain ASI yang hanya keluar 2 tetes tersebut, Triya minum ASI dari donor. Alhamdulillah kami tidak perlu sulit mencari donor, karena kedua orang kakak ipar saya masih menyusui. Setiap hari mereka mengirimkan stok ASIP (ASI Perah) mereka ke RS, dan itulah yang menjadi sumber sehat dan daya tahan tubuh Triya di hari-hari awalnya di dunia. Alhamdulillah kedua orang kakak ipar saya suplai ASInya konstan dan banyak, alhamdulillah Triya tidak perlu harus minum susu formula di hari-hari awalnya.

Setelah hari ketiga, suplai ASI saya mulai bertambah. Yang awalnya hanya 2 tetes, naik menjadi 5ml, naik menjadi 10ml, naik menjadi 15ml, naik menjadi 30ml, 50ml, dan 60ml setiap kali dipompa. Frekuensi saya turun ke ruang perina (ruang rawat intensif bayi) pun semakin sering – untuk memberikan susu perahan dan untuk menyusui Triya secara langsung. Rasanya, setelah berhasil menyusui Triya secara langsung untuk pertama kalinya, suplai ASI saya langsung meningkat!

Setelah 2 hari diberikan ASI yang banyak, berat badan Triya langsung naik 100gr. Dan pada hari kelima, saat Triya pulang, beratnya sudah 2760gr. 🙂

Boleh pulang!

Hari Sabtu, tanggal 28 Januari, Triya boleh pulang. Dari hari Jumat sebenarnya kadar bilirubin Triya sudah normal – walaupun masih agak tinggi. Dan dari hari Jumat juga sebenarnya Triya sudah boleh pulang kalau memang saya dan Ei memutuskan demikian. Tapi akhirnya saya dan Ei memutuskan untuk menunggu satu hari lagi. Pertimbangannya ada 2: menunggu perkembangan kadar bilirubin Triya setelah berhenti disinar di hari Jumat; dan menunggu pemberian antibiotik yang terakhir kali untuk melengkapi dosisnya hari Sabtu sore.

Akhirnya, hari Sabtu siang, dokter Anita memanggil kami berdua dan memberikan lampu hijau sehijau-hijaunya untuk membawa Triya pulang. Kadar bilirubin Triya sudah normal, tidak lagi hipotermi, berat badan naiknya juga banyak, dan antibiotiknya sudah selesai. Horeee!!! Dengan demikian, she’s now ready to face the big, bad world!

Advertisements

9 thoughts on “24 Januari 2012 – the day my life starts anew

  1. Nindya says:

    Aku jadi penasaran, gimana cara mengetahui air ketuban udah pecah atau belum. Jadi deg-degan abis baca entri blog-nya Nena, huhuw.

    Alhamdulillah Triya, Nena, dan Ei sehat-sehat aja 🙂 Salut sama Nena dan Ei! Luar biasa tabah dan positif. Percaya Triya bakal jadi anak yang hebat karena orang tuanya juga orang-orang hebat 🙂 All best wishes, Nena 🙂

    • Nena Brodjonegoro says:

      Huehe, sebenernya sih mestinya ketahuan Kap, soalnya kan basah kalo pecah.. tapi itu aku pas bobok, jadi pas bangun udah gak berasa, hahaha.. Semoga kamu sehaaattt teruuss! Bilangin Ari harus stand by dan support teruuss!!

  2. Nhira says:

    WOW…. Cerita yang menakjubkan sekali kak nena.
    Selamat untuk kelahiran putra pertamanya kak nena dan kak ei.
    Semoga Triya tumbuh jadi anak yang kuat dan sehat ya kak 🙂

  3. pawn shops open on sunday says:

    It’s appropriate time to make some plans for the future and it is time to be happy.
    I’ve read this post and if I could I wish to suggest you some
    interesting things or tips. Perhaps you can write next articles referring to this article.
    I wish to read more things about it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s