Lebaran Kali Ini

Lebaran kali ini punya banyak cerita. Cerita yang berbeda dengan cerita-cerita Lebaran saya sebelumnya – yang biasanya diwarnai dengan cerita nyekar ke Solo dan menginap di penginapan favorit keluarga saya di Desa Tembi, Bantul.

Cerita lebaran kali ini berbeda karena tahun ini settingnya berbeda. Tahun ini saya sudah menikah, tinggal di Batam (sambil bolak-balik Jakarta), bekerja lepas, dan hanya pulang ke Jakarta sebentar. Tahun ini juga diputuskan oleh ibu saya bahwa saya akan lebaran di Jakarta bersama mertua – sambil jaga rumah karena ART akan pulkam. Lalu, barulah di hari lebaran ketiga (ternyata jadinya hari lebaran kedua, berhubung lebarannya ‘diundur’) saya dan suami menyusul ke Jogja.

Beberapa hari sebelum lebaran pun saya dan Ei pulang ke Jakarta dengan penuh sukacita. Menyambut sahur yang tidak hanya berdua, buka puasa yang tidak hanya berdua, dan tentunya, makanan yang lebih bervariasi daripada sekedar nasi, oseng-oseng sayur, dan rendang kiriman mertua. 🙂

Sebelum lebaran, dinamika buka puasa dan sahur kami seperti bola ping-pong. Sahur di tempat mertua, buka di tempat orang tua saya, menginap di rumah ortu, kemudian besoknya buka di tempat mertua – demikian seterusnya sampai tanggal 29.

BUKA PUASA!! Alhamdulillaaah… 29 hari puasa berhasil dilalui, ketupat sudah tersaji di meja, jam setengah 6 kami semua sudah duduk manis dengan sepiring ketupat, sayur buncis, sambel goreng ati, semur, opor, dan kerupuk – ngobrol ngalor-ngidul tentang puasa dan lebaran esok hari. Jam 6 kurang seperempat mulai ada joke tentang sidang isbat pemerintah dan kemungkinan besok ternyata masih puasa – hahaha… Tentang tidak jadi takbiran, dan jadinya tarawih lagi – hahaha…

Jam 6, semua mulut sibuk mengunyah ketupat. Jam setengah 7, kekenyangan dan sholat maghrib, jam 7 kurang seperempat – joke sebelumnya menjadi semakin nyata seiring dengan berjalannya sidang isbat. Keluarga Ei terbagi dua opininya – sebagian yakin lebaran akan jatuh besok, tanggal 30; dan sebagian lagi yakin mengikuti pemerintah pada tanggal 31. Ayah mertua kelihatannya cenderung tanggal 31. Suasana mulai sedikit getir. Apalagi suasana hati saya.

Saya sangat yakin bahwa lebaran akan jatuh besok, tanggal 30. Sesuai dengan kalender. Kebetulan sama dengan Muhammadiyah. Sama dengan keluarga saya yang merayakan lebaran di Jogja – pasti semuanya lebaran besok. Kegetiran dan kebingungan tentang lebaran ini rasanya salah – karena sebelumnya tidak pernah begini. Sebelumnya kami selalu yakin tentang kapan akan berlebaran. Dan tahun ini, kapan akan berlebaran saja tidak yakin. Lebaran tahun ini jadi terlalu banyak bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya. Dan saya mulai merasa tidak nyaman.

Jam 11 malam, setelah memanggil pak Ustadz dan berdiskusi panjang-lebar, kami sekeluarga pun memutuskan untuk lebaran tanggal 31 – mengikuti Ulil Amri (pemimpin/pemerintah). Hati saya mencelos, dan berdoa, Ya Tuhan, kalau memang ini keinginanMu, maka berikanlah aku keikhlasan untuk menerima dan menjalankannya

Puasa hari ke-30 berjalan tanpa kesan, berlalu tanpa kesan. Kami berbuka dengan ketupat dan tekwan – agak aneh mengingat buka kemarin lebih seru dengan penayangan perdana ketupat dan kawan-kawannya. Di rumah pun sepi, karena kakak ipar sekelurga sedang berlebaran dan halal-bihalal di rumah mertuanya yang sudah lebaran hari itu. Tradisi beli bunga di Rawa Belong yang sudah berlangsung bertahun-tahun di keluarga Ei pun tidak lagi sama, karena ternyata saat kami datang jam setengah 11 malam, bunga sedap malam sudah habis di mana-mana. Kalaupun ada hanya 5 batang – dengan harga rp.50.000. Kami pun pulang dengan tangan kosong. Saya pulang dengan hati kosong. Kok lebarannya begini ya…

Hari besar itu pun tiba. Setelah sholat Ied, bermaaf-maafan, kami kembali makan ketupat. Kali ini ada pendampingnya, yaitu tekwan dan bakso. Pikiran saya melayang ke saat-saat berlebaran di Jogja bersama keluarga saya – lontong, opor, krecek, tempe dan tahu bacem. Rasanya tidak super-spesial enaknya, tapi hangat karena dimakan ramai-ramai oleh semua keluarga besar. Dan karena kami tahu, siangnya kami akan mampir ke Moro Lejar untuk makan mangut lele.

Kalau biasanya saya ‘mengalami’, tahun ini saya jadi banyak bercerita tentang lebaran di Jogja. Bagaimana setelah sholat Ied dan makan, dan setelah semua putra-putra eyang kumpul kami akan bergiliran sungkem per-keluarga. Pertama keluarga pakde-pakde saya, diikuti oleh keluarga saya, dan keluarga om-om saya. Kami akan memfoto semua yang sungkem pada eyang, dan menertawakan tingkah keponakan-keponakan saya yang masih balita yang diajari sungkem oleh eyang. Lalu kami akan bergiliran foto per-keluarga bersama eyang, lalu berfoto sekeluarga besar. Setelah itu, mobil disiapkan, dan kami siap-siap keliling ke besan-besan eyang yang tersebar di berbagai bagian kota Jogja. Lalu berhenti di Moro Lejar, di Jalan Kaliurang untuk makan siang.

Besoknya, di lebaran hari kedua, kami akan pergi ke Solo rame-rame untuk nyekar di makan eyang kakung. Mampir di pasar untuk beli bunga dan sosis solo, lalu pulangnya mampir di restoran yang buka di Solo, dan makan siang rame-rame.

Tahun ini – semuanya jadi tinggal cerita buat saya. Tahun ini, lebarannya berbeda. Dan walaupun memang hangat – tapi lebaran kali ini rasanya masih berbeda.

Kalau kamu – bagaimana lebaranmu kali ini?

Advertisements

One thought on “Lebaran Kali Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s