Gorontalo yang sarat adat

Berbicara tentang #RemarkableIndonesia memang tiada habisnya. Kita bicara tentang Indonesia yang kaya budaya, yang sarat adat. Tapi saya baru benar-benar merasakan maknanya di akhir minggu lalu ketika saya pergi ke Gorontalo dalam rangka acara lamaran bagi salah seorang sepupu saya.

Berdua belas orang kami pergi ke Gorontalo dari Jakarta, siap dengan kebaya, kain/songket, dan kain sarung tanjung khas Palembang – untuk melamar dengan berpakaian adat Palembang. Perjalanan ke Gorontalo memakan waktu setengah hari. Pesawat dari Jakarta take off jam 5 pagi, dan kami sampai di Gorontalo jam 11 siang, dengan transit di Makasar selama 45 menit.

Sesampai di Gorontalo, kami singgah sebentar di hotel, lalu meluncur ke rumah calon besan untuk perkenalan dan untuk bertemu dengan para pemuka adat. Pakaian: bebas rapi.Sebelum berangkat, tidak lupa sepupu saya memberikan sebuah buku yang sudah dicetak dan dijilid rapi: buku panduan acara pernikahan bagi sepupu saya dan calonnya, dengan nama mereka berdua, tanggal yang pasti, dan susunan acara dari lamaran sampai akad nikah. I was deeply impressed.

Di rumah calon besan kami disambut dengan senyuman dan lebar dan hangat dari seluruh keluarga pihak calon besan. Dan, tentu saja, makan siang yang lezat dan berlimpah dengan menu: bakso, nasi kebuli, sate kambing, daging semur, ikan asam-manis, ayam rica-rica, dan es buah sebagai makanan penutup.

Seusai makan kami diajak keliling rumah, duduk-duduk santai sambil minum kopi dan karaoke, seraya menunggu para pemuka adat datang jam 4.30 sore.

Jam 4.30 para pemuka adat datang, suasana berubah menjadi khidmat. Di ruang tengah 2 buah karpet besar digelar, dan para laki-laki semua duduk di karpet tersebut. Berhadap-hadapan – pihak kami dan pihak calon besan. Untuk pihak kami sudah disediakan seorang juru bicara dari pemuka adat juga. Prosesi musyawarah berjalan lancar. Ada seperangkat kotak berisi sirih & gambir serta payung yang merupakan simbol kesepakatan, bertutup kain warna kuning.

Setelah musyawarah disepakati, kain penutup tersebut dilipat dan dimasukkan ke dalam kotak. Ternyata, itulah simbol bahwa lamaran diterima. Kami pun pulang dengan hati lega, dan sedikit tegang karena sebelumnya ayah saya, yang berkata, “Kami sangat merasa terhormat dengan sambutan yang luar biasa ini, yang sangat menjunjung tinggi adat dari keluarga Bapak… Kami hanya bisa mengucapkan terima kasih, dan kami mohon dibimbing supaya besok kami tidak melakukan kesalahan yang akan merusak lancarnya acara lamaran…”, dan dibalas dengan:

kalau bicara salah-benar, sekarang saja bapak sudah salah… karena pakai baju batik tangan pendek, dan tidak pakai kopiah…

DANG. Siyok-lah ayah saya… 😀 Kami yang lain berusaha menahan tawa walaupun juga merasa ketar-ketir di dalam hati. Waduh, besok berarti harus rapi banget, dong. Ditambah lagi, ucapan dari Cik Nou (tante dari calonnya sepupu saya) bahwa ketika acara besok yang akan mengatur jalannya acara adalah para pemuka adat. Dan mereka bisa menolak seseorang untuk masuk ke ruang sidang adat (tempat berjalannya acara utama) jika orang tersebut dianggap tidak pantas masuk.

Lantas, pakaian apa yang dianggap pantas? Untuk laki-laki: celana/sarung panjang, atasan lengan panjang, dan kopiah. Untuk perempuan: kain/rok panjang, atasan lengan pajang, dan kerudung/jilbab. Naah, jadilah saya langsung terburu-buru mencari manset – karena kebaya saya berlengan 3/4, dan mencari kain panjang untuk dijadikan kerudung/jilbab. Wow. *seumur-umur nggak pernah pakai jilbab padahal…*

Keesokan harinya, kami yang perempuan heboh berdandan dengan memakai jilbab. Dan setelah siap, kami berfoto bersama :D, baru kemudian berangkat menuju rumah calon besan. Sebelumnya kami mampir di rumah kakak calon tunang perempuan untuk mengambil harta nikah (seserahan). Harta nikahnya berjumlah sekitar 27 kotak, ditambah dengan beberapa keranjang syarat adat (buah-buahan, dll) dan tunas pohon kelapa. Untuk membawa harta nikah ini pun sudah disiapkan 6 pasang nou dan uti (bujang dan gadis) yang khusus bertugas untuk itu.

Setelah sampai di depan rumah calon besan, seluruh rombongan keluarga tidak boleh turun dari mobil sebelum kami dipersilakan masuk oleh pemuka adat. Sesudah kedatangan kami diterima, maka kami turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.

Di depan rumah sudah ada puluhan tamu yang duduk rapi berjejer, dan ketika memasuki ruang tamu juga sudah ada puluhan ibu-ibu yang duduk di pinggir ruangan. Di ruang tengah, yang menjadi ruang sidang adat, sudah duduk rapi ibu-ibu di satu sisi ruangan dan bapak-bapak di sisi ruangan yang lain. Ketika kami sudah duduk semua, acara langsung dimulai. *berasa menteri, begitu datang, acara langsung dimulai.. 😀 *

Acara lamaran ini khidmat sekali, dan memang semuanya dilakukan oleh para pemuka adat. Juru bicara untuk kedua belah pihak adalah para pemuka adat, sehingga pihak keluarga memang tidak berbicara sama sekali. Persetujuan dan musyawarah dilakukan melalui kedua juru bicara adat. Harta nikah dibawa masuk, dan digelar di atas kain panjang di bagian tengah ruang sidang adat. Setelah lamaran diterima, harta nikah tersebut dibawa masuk ke dalam kamar tidur calon tunangan perempuan.

Setelah itu acara berikutnya adalah melihat calon pengantin perempuan, yang duduk menunggu di dalam kamarnya. Hanya para tamu perempuan lah yang diijinkan untuk masuk ke dalam kamar, sementara calon pengantin laki-laki menunggu di luar ruang sidang adat. Sang calon pengantin perempuan memakai baju adat Gorontalo lengkap, kelihatan cantiiiiiiik sekali…

Ketika memasuki kamar dan melihat calon sepupu saya yang menawan, ibu saya tidak bisa menahan air mata terharunya… Penyambutan hangat yang kami terima, perlakukan keluarga calon besan yang sangat menghormati dan “memuliakan” kami sekeluarga, serangkaian acara adat yang khidmat dan direncanakan dengan rapi dan rinci, serta calon sepupu yang baik dan cantik – semuanya berkonspirasi mendorong air mata kami sekeluarga, dan acara lamaran itu pun diakhiri dengan kami yang saling berpelukan dengan mata merah….

Advertisements

9 thoughts on “Gorontalo yang sarat adat

  1. Navicha says:

    Salam kenal mba Nena^^

    lagi blogwalkiing aja tentang budaya Indonesia, terdampar di sini, dan saya jadi ikut merinding menangis tapi bahagia setelah menyelesaikan baca “gorontalo yang sarat adat”.

    TFS mba ^^

  2. Nena Brodjonegoro says:

    @Chenk @Navicha Thanks for dropping by yaa.. 🙂 Iya, memang Indonesiaku nggak ada abisnya.. indah terus. 🙂 Tinggal gimana cara kita menghargainya… *sok ngajarin orang* 😀

  3. andiadiano says:

    saya juga pernah melihat secara langsung prosesi mulai dari lamaran sampai resepsi adat Gorontalo. sangat…sangat membuat merinding. kebetulan saya juga warga asli Gorontalo dan pernah sekali menggunakan baju persis sama seperti yang digunakan oleh pengantin. Saat itu saya sedang menjalankan prosesi be’at (smoga saya tidak salah dalam penulisan, maaf) beserta ritual-ritualnya. Itu saja sudah membuat saya terharu sekaligus merinding. bisa dibayanginlah, gimana perasaan mba saat lamaran saudara mba itu ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s