Salam terakhir untuk Delfi

Delfi itu (salah satu) anjing saya. Warnanya coklat gelap – nyaris hitam. Ukurannya cukup besar, dengan tinggi sekitar 70cm. Delfi bukan anjing ras murni, dia keturunan anjing Kintamani dan herder, jadi memang terlihat menyeramkan. Tetangga banyak yang takut padanya, padahal Delfi adalah salah satu anjing teramah dan terbaik yang pernah saya tahu.

Delfi biasa kami anggap sebagai anjing penjaga rumah, walaupun sebenarnya dia lebih untuk menakut-nakuti orang karena ukuran dan warnanya yang memang terkesan garang. Dia senang mengibas-ngibaskan ekornya yang panjang ketika melihat salah satu dari kami pulang. Dia suka menatap memelas meminta diberikan makanan. Kelakukannya cukup lucu, kalau siang dia suka bermalas-malasan.

Kami mulai memelihara Delfi tahun 2000, ketika itu dia baru lahir. Waktu Delfi masih kecil, saya dan adik-adik yang memandikan dia. Sekarang kami harus dibantu oleh asisten RT kami karena Delfi sudah besar sekali.

Sekitar tiga bulan yang lalu kami mulai menyadari bahwa ada benjolan yang tumbuh di dekat ketiak kirinya. Awalnya kami hanya bercanda, “Waaah, Delfi punya tumor!!”, tapi sekarang itu tidak lucu lagi.

Seiring dengan waktu benjolan itu membesar sampai sekepal tangan papah. Kami berencana untuk membawa Delfi ke dokter, tapi selalu tidak jadi. Sampai sekitar 10 hari yang lalu benjolan itu pecah. Delfi terlihat kesakitan dan mulai sulit berjalan. Lukanya kami bersihkan dengan rivanol, tapi selalu ia jilati. Mungkin itu naluri alaminya. Hari itu hari Minggu, dan dokter hewan di dekat rumah kami baru buka hari Senin.

Dokter hewannya lalu kami telpon, dan ia bilang, benjolan yang pecah itu mungkin kanker, tapi mungkin juga hanya abses. Jika abses, masih bisa disembuhkan; jika kanker, harus diperiksa lebih lanjut. Lantas googling atas kata kunci “abscess symptoms on dog” dan “dog cancers” dilakukan. Kesimpulan saya dan adik saya, “kayaknya Delfi abses aja deh…”

Hari Senin Delfi dibawa ke dokter. Hasilnya: Delfi positif kanker. Delfi juga dirontgen, dan kankernya sudah menyebar sampai jantung. Artinya, Delfi sudah tidak bisa dioperasi karena operasinya berarti harus mengenai jantungnya. Sejak hari itu Delfi semakin lesu, matanya tidak lagi ada sinarnya sama sekali – kecuali saat ia berada di mobil dalam perjalanan ke dokter. Ia terlihat senang bisa jalan-jalan.

Kemarin, persis seminggu setelah ia dibawa ke dokter, Delfi akhirnya memutuskan untuk berhenti berjuang. Mungkin ia lelah melawan kankernya. Mungkin, ia merasa sudah cukup memberikan kehadirannya di rumah kami. Mungkin, ia menunggu kehadiran penggantinya sebelum memutuskan untuk meninggalkan kami.

Yang jelas, Delfi sekarang sudah tidak ada lagi. Anjing coklat besar yang menakutkan tapi ramah itu sudah tidur pulas. Ekor panjangnya yang berkibas-kibas tidak ada lagi. Saya tidak tahu, apakah Delfi senang tinggal bersama kami. Rasanya, kami tidak menyayangi Delfi seperti seharusnya. Tapi mudah-mudahan Delfi sudah menjalani hidup yang cukup menyenangkan, sebelum akhirnya dia harus kalah melawan kankernya.

Maaf ya Delfi, kalau kami tidak menyayangimu lebih banyak lagi. Kalau kami suka menyuruhmu keluar karena kamu membuat penuh rumah. Kalau kami suka memberimu makanan lebih sedikit dibanding yang lain. Kalau kami suka membentakmu. Kalau kami suka tidak membelaimu. Maaf yaa…

note: 5 hari sebelum Delfi meninggal, Pleki, anjing saya yang lain yang sudah berumur 12 tahun, melahirkan 1 ekor anak anjing. Warnanya hitam, betina, dan melihat ukurannya, dia akan jadi anjing yang besar. Kami sudah berpikir, “Ini gantinya Delfi niih…” Dan ternyata benar. Dia diberi nama Temi.





Advertisements

3 thoughts on “Salam terakhir untuk Delfi

  1. Rassi Narika says:

    *peluk buat kalian bertiga.* My deepest condolences. Jadi pengen pulang ngajak maen Coklat, Cemong, sama Geboy. Peluk buat Temi, bisikin kalau dia lucu. *jadi pengen punya anjing kecil lagi, apa maen ke rumah lo ya? hehehe. udah punya ide harrasment buat temi*.

    senangnya ada orang lain yang menggunakan kata ‘meninggal’ untuk binatang *kecuali semut sama nyamuk.

  2. sisi says:

    uuuhh delfi udah ngga ada yah???
    humm.. jadi sedih bacanya. mengingat anjing itu lucu sebenarnya, walaopun besar.. uhuhuhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s