Tentang nggak sempet

Aduuhh.. sori banget, gue kemarin mau nge-SMS loe tapi nggak sempet…

Wah, tadi gue nggak sempet nge-print filenya…

Sering melontarkan kalimat-kalimat seperti itu nggak?

Kalau saya kok ya, sering? Akhir-akhir ini kalimat itu sering terlontar ke ibu saya. Dan jujur, saya mulai merasa berdosa. Rasanya saya jadi mendahulukan banyak hal lain selain ibu saya – dan rasanya itu tidak benar.

Pekerjaan dan teman jadi menjadi prioritas utama, dan keluarga mulai dinomorsekiankan. Ayah dan adik-adik sih tidak terlalu terganggu, tapi berhubung saya anak perempuan satu-satunya dan dekat sekali dengan mamah, beliau yang merasa sangat terganggu dengan berbagai kesibukan saya.

Kalau temen kamu yang minta temenin ke Bandung, kamu rela bangun pagi-pagi. Kalau aku yang minta, susah bener kamu bangunnya…

Demikian ia suka mengeluh. Dan itu memang berdasarkan kejadian nyata.

Saya merasa berdosa. Merasa tidak nyaman. Merasa ingin melakukan sesuatu. Tapi kok susah sekali…

Ada yang punya persoalan yang sama?

Advertisements

2 thoughts on “Tentang nggak sempet

  1. Nindya says:

    Sama.

    I’m taking things for granted. Ngerasa kalo keluarga pasti ada buat kita, sampe akhirnya mereka ga bisa sama kita lagi, baru nyesel.

    Sekarang gw mulai ngebiasain nelpon ortu di rumah 2 hari sekali. Soalnya gw mulai ngrasa kalo gw adalah seorang ibu, pasti seneng kalo anak gw nelpon gw 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s