Saigon: Asia dengan sentuhan Perancis

Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di wilayah IndoChina, tepatnya di Ho Chi Minh City yang dulu punya nama indah, Saigon. Setelah mendengar Hanny cerita tentang Vietnam, saya semakin ingin pergi ke Vietnam, dan ternyata outing kantor tahun ini diputuskan ke Saigon. ๐Ÿ™‚

Sebelum mendarat di Saigon, saya sedikit membayangkan Bangkok. Kota besar yang ramai dan sedikit berantakan, dengan kendaraan bermotor yang sliweran seolah pengendaranya punya cadangan nyawa. Ternyata saya salah. Saigon adalah kota berukuran sedang yang ramai, hidup, dan terkesan rapi. Saigon juga bersih dan relatif teduh, dengan adanya 10 taman di berbagai tempat di kota dan trotoar yang lebar-lebar.

Tapi, pengendara motornya luar biasa. Mereka seperti tidak punya aturan dan sama sekali tidak mau mengalah dengan pejalan kaki! Di Jakarta, jika seseorang ingin menyeberang, maka dengan sedikit kenekatan pengendara motor akan berhenti dan membiarkan kita menyeberang. Di Saigon, mereka akan tetap nyelonong begitu saja di depan kita. Cipluk, seorang teman, hampir terserempet motor sebanyak 5 kali selama 1 hari di Saigon.

Saigon dan kopi

Rupa-rupanya Vietnam terkenal dengan kopinya. Di mana-mana tersedia kopi, dan seperti teh tarik di Malaysia, seperti itulah iced coffee dan iced coffee with milk di Saigon dan Vietnam. Semua restoran dan warung menyediakan kedua minuman tersebut, dan rasa kopinya memang benar-benar enak. Untuk saya, kopi di beberapa restoran terasa terlalu kental sehingga harus ditambahkan air sedikit lagi. Kadang, susu kental manis yang ditambahkan ke dalam kopinya pun terlalu menis. Kelihatannya mereka suka rasa minuman yang “ekstrim”.

Cara penyajian kopi Vietnam ini pun cukup unik. Filternya bentuknya lucu, mirip dengan cangkir aluminium dan diletakkan di atas cangkir kopi kita. Cara menggunakannya: masukkan kopi ke dalam cangkir saringan, tuang air panas ke atasnya sampai penuh, tutup dengan penutupnya, lalu tunggu sampai kopi yang sudah diseduh menetes ke dalam cangkir kopi. Jika terlalu kental, cukup tambahkan air panas saja. Jika ingin kopi susu yang otentik Vietnam, tambahkan susu kental manis.

Saigon dan taman

Seperti saya bilang di atas, ada banyak sekali taman di Saigon. Di pusat kota saja, di distrik 1, ada 3 taman yang saya lihat. Semuanya besar dan rindang dan punya berbagai alat olahraga yang bisa dipakai bebas oleh publik. Taman-taman itu semua juga berfungsi dengan baik dan benar-benar menjadi public sphere bagi masyarakat.

Sore-sore akan ada banyak orang yang jogging keliling taman, atau main “badminton kaki” (belum tahu namanya apa, tapi permainannya dimainkan oleh 4-5 orang di dalam lingkaran, mereka akan saling mengoper semacam kok badminton dengan menendangnya). Di malam hari akan ada banyak orang yang sekedar duduk-duduk, bermain “badminton kaki”, pedagang mainan anak-anak, serta pasangan-pasangan yang duduk di atas motor dan pacaran…

Saigon dan Cu Chi

Karena Saigon adalah pusat terjadinya perang Vietnam, wajar jika salah satu atraksi wisata utamanya adalah Cu Chi tunnel. Terowongan sepanjang 250 km ini adalah hasil perjuangan gerilya Viet Cong, digali dengan cangkul selama belasan tahun di bawah wilayah pusat militer Amerika Serikat di Cu Chi. Semua jalan masuknya tersamarkan, demikian juga dengan ventilasinya yang terlihat seperti sarang rayap.

Menurut Hoang, guide kami, selama perang para prajurit Viet Cong akan tinggal di dalam terowongan selama siang hari dan akan naik ke atas untuk bercocok tanam di malam hari. Terowongan yang dibangun (atau tepatnya digali) itu bentuknya tidak beraturan karena memang tidak didesain dengan pasti.

Sistem menggalinya adalah dengan bekerja berkelompok sebanyak 4 orang – 1 orang menggali, 1 orang mengangkat tanah galian dari terowongan, 2 orang membuang tanah galian. Jarak masing-masing kelompok adalah sekitar 6 meter dari satu sama lain, dan mereka akan menggali secara bersamaan. Karena itu jalurnya kadang bertemu dan saling menyambung, tapi kadang buntu.

Yang paling mengesankan buat saya selama berada di Cu Chi adalah bermacam jebakan yang dibuat oleh Viet Cong, dan membayangkan betapa mengerikannya keadaan di Cu Chi dulu. Selain itu, kondisi terowongan pun sangat depresif… Tidak terbayangkan apa rasanya harus tinggal di sana selama belasan tahun seperti pak Nam. Beliau sampai kehilangan tangan kiri dan penglihatan kirinya… Besar terowongannya hanya sebesar ukuran tubuh orang Asia, dan hanya bisa dilewati dengan sedikit membungkuk. Saya dan beberapa orang teman hanya melewati terowongan sepanjang 30 meter saja rasanya sudah pegal dan sesak napas.. -_-‘

Saigon dan Perancis

Sejak abad 18, Perancis sudah mulai berhubungan dengan Vietnam dan beberapa wilayah lain di daerah IndoChina. Pada pertengahan abad 19, Perancis secara ‘resmi’ menguasai Vietnam sampai dengan bulan Maret 1954 ketika mereka mengalahkan Perancis di peperangan Dien Bien Phu.

Perkiraan awam saya mengatakan bahwa pendudukan Perancis di Vietnam ini punya beberapa pengaruh terhadap Vietnam (paling tidak Saigon) yang sekarang. Yang pertama adalah taman-taman kota yang besar dan benar-benar berfungsi sebagai ruang publik. Kedua adalah budaya minum kopi. Ketiga adalah ‘budaya’ bermesraan di ruang publik. Keempat adalah bangunan-bangunan bersejarah yang secara arsitektural sangat Eropa.

Dan, sebenarnya masih banyak lagi foto-foto lain (menyusul yaa)… Ada juga kejadian yang ingin sekali saya abadikan tapi malu… Yaitu ketika pasangan-pasangan muda Saigon ini sedang mempraktekkan warisan budaya Perancis, French-kissing

Advertisements

4 thoughts on “Saigon: Asia dengan sentuhan Perancis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s