Sepotong kisah dari sepotong surga di Nusantara – 2

Melanjutkan postingan sebelumnya, sekarang saya akan berbagi mengenai makanan dan akomodasi di gili Trawangan.

Berbicara mengenai makanan, Gili Trawangan sama sekali bukan tempat termurah. Harga makanan di sini hampir sama dengan harga makanan di Jakarta atau Bali – terutama di restoran dan hotel. Mungkin mahal karena letaknya yang jauh dari pulau utama, dan semua bahan makanan (kecuali seafood) harus dibawa dari pulau Lombok.

Harga makanan di restoran berkisar antara IDR 75k-100k per orang, untuk makanan appetizer yang di-share, makanan utama, dan minum non-alkohol. Makanan di sana rasanya cukup oke, walaupun saya hanya mencoba makan di 2 restoran, di restoran Blue Beach House dan The Beach House.

Salah satu yang paling berkesan adalah makan di The Beach House, kami bertiga dan makan makanan pembuka (1 porsi), makanan utama (3 porsi), serta makanan penutup (1 porsi) dan minum (2 botol besar Bintang dan soda) totalnya adalah IDR 750k. Untung rasanya enaaaaaakk sekali!!

Air minum terutama sangat mahal di Lombok. Di Villa Ombak, air minum kemasan yang 600ml dijual seharga IDR 15k dan yang 1500ml IDR 20k. Selain air minum, air tawar pun adalah satu hal yang relatif mewah di Trawangan. Air kolam renang dan air ledeng di hotel pun air asin. Tapi disediakan satu keran khusus dan ember besar untuk air tawar. Jadinya setiap mandi jadi lamaaaa dan repooottt betul… Padahal kan justru sesudah sibuk main di pantai butuh membersihkan tubuh dengan optimal dan tanpa rasa asin sesudahnya…

Nah, berlanjut ke akomodasi. Di Trawangan, akomodasi yang lebih “luksus” ada di sisi barat pelabuhan Bangsal – seperti Villa Ombak, The Beach House, Kokomo dan Scallywags. Sementara, di antara pelabuhan Bangsal sampai dengan The Beach House, ada beberapa akomodasi kelas menengah yang juga nyaman, tapi fasilitasnya tidak sebanyak yang lebih luksus tadi itu.

Range harga akomodasinya antara IDR 400,000 – IDR 3,500,000. Untuk satu rumah full (seperti villa Indra, yang bentuknya seperti rumah besuaaar di tengah-tengah kebun) harganya bisa mencapai IDR 5,000,000 per malam.*phew…*

Di malam hari, selain deretan restoran, pub, dan bar yang semuanya menggoda, ada satu hal yang unik dan baru pertama kali saya lihat: mini bioskop rental. Di Jakarta kita tahu ada Subtitle atau Flicker yang bisa kita sewa studionya untuk menonton DVD yang juga bisa kita sewa di tempat. Di Trawangan konsep ini diterapkan juga, tapi dengan cara yang sangat “Trawangan”.

Studionya adalah bale-bale bambu di pinggir pantai. Layarnya adalah TV 14 inch. Kursi empuknya adalah bantal-bantal kecil. Dan koleksi DVDnya adalah DVD yang sering kita beli sendiri (alias bajakan..). Ada 4 “bioskop mini”, dengan koleksi DVD yang berjumlah ratusan, yang cukup untuk menghibur para wisman dan juga penduduk lokal. Selain “bioskop” mini, ada juga layar tancap mini – yang jadwalnya diinformasikan sehari sebelumnya.

Bagi saya, yang paling menawan dari Trawangan adalah atmosfernya. Suasananya yang sangat santai, seolah tidak ada konsep jam – yang ada hanya konsep waktu. Waktunya sarapan, waktunya berenang, waktunya berjemur, waktunya melihat sunset, waktunya makan malam, waktunya berjalan berkeliling pulau.

deretan kafe di jalan utama Gili Trawangan

Gadis penari api di sebuah lounge di pinggir pantai

Semua hal yang ada di Trawangan mendukung konsep ini. Semua orang berjalan dengan langkah yang relatif perlahan dibandingkan dengan langkah orang Jakarta di pagi hari. Kegiatan utama orang-orang, baik wisatawan maupun penduduk asli, kelihatannya adalah duduk-duduk. Duduk-duduk menunggu tamu yang datang, menunggu tamu memesan, menunggu matahari terbit dan terbenam, melihat pantai, menantang matahari. Semua seolah berjalan dengan alami, tanpa perlu melawan arus alam dan cuaca.

Mungkini ini yang dicari oleh para pelancong dari Eropa itu. Mereka datang belasan ribu km jauhnya, ya untuk ini. Untuk makanan laut yang segar dan manis. Untuk pasir putih di bibir hamparan laut berwarna pirus bening. Untuk hidup yang terasa indah dan sarat rasa. Untuk sepotong surga kecil di tengah hiruk-pikuk dunia.

Advertisements

4 thoughts on “Sepotong kisah dari sepotong surga di Nusantara – 2

  1. Jiewa says:

    Setuju dgn Sharon, udangnya kok gede2 amat ya…
    Oya, jadi itu nonton film di bale2 semi open space gt? biasanya musuh terbesarnya adalah nyamuk hiahaha.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s