Brighspot – In search of masstige things

Dari hari Kamis – Minggu lalu ada Brightspot Market di Pacific Place Jakarta. Kalau kamu anak G4UL Jakarta – pasti tahu apa yang saya maksud dan saya tidak perlu lagi menjelaskan apa itu Brightspot Market.

Kalau kamu sudah pernah datang ke Brightspot sebelumnya, pasti frase-frase macam: orgasme visual, atau where beautiful people gather cukup sering didengar ketika menceritakan tentang Brightspot. Kalau 2 minggu lalu Java Jazz Festival adalah ajang menunjukkan eksistensi diri (dan bukan sekedar menikmati musik jazz), maka Brightspot ini menurut saya juga punya kesan seperti itu. Bedanya, Brightspot menyasar mereka yang sudah eksis – untuk membuktikan ke-lebiheksis-an mereka.

Hari Kamis Brightspot dibuka hanya untuk mereka-mereka yang diundang. Tapi, ternyata yang datang pada hari Kamis jumlahnya melebihi mereka yang datang hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Padahal bagi saya (yang datang hari Jumat), hari Jumat itu sudah penuuuhhh sekali! Seorang teman yang datang hari Kamis dan Jumat berkata, “Yah, memang ternyata orang masih senang untuk jadi yang pertama…” But, of course!

Di Brightspot ini banyak sekali benda-benda unik, baru, dan segar yang ditampilkan. Sebagian besar karya anak bangsa – jadi memang cukup bangga rasanya. Sebagian besar berupa baju dan aksesori seperti tas, kalung, cincin, dompet, dan sepatu. Tapi ada juga kedai makanan kecil dan stand buku dari Aksara. Mungkin ada sekitar 40-an lebih brand yang ikut meramaikan Brightspot kali ini. Dari sedemikian banyak, ada 2 yang menarik perhatian saya – keduanya bukan baju.

Yang pertama adalah tulisan. Buat yang bertanya-tanya, ya, itu nama brandnya. Tulisan memproduksi barang-barang cetak dengan desain yang dibuat oleh Melissa Sunjaya. Dia desainer grafis, dan saya suka sekali dengan desainnya! Ringan, tapi cantik. Cukup rumit, tapi mudah dinikmati. Kesan ini terlihat di booth mereka yang ramai, tapi manis dan mengundang untuk mampir. Ditambah lagi Siskia dan Tata yang menjaga booth sangat ramah!

Desain Tulisan diterjemahkan lewat kartu gift tag seukuran post-card – jadi bisa dijadikan gift tag atau kartu pos; kertas surat – me love it!!!; tunik; tas; dan banyak lagi. Bisa juga dibuat sesuai pesanan. Browsing di blognya membuat saya ingin belanja lagi di sana… :(( Nah, buat yang penasaran dengan produk-produk Tulisan, di bawah ini adalah barang-barang yang saya bawa pulang dari Brightspot!!

letter set 75k, gift tag @60k, isi 20 pcs

Selain Tulisan, barang lain yang menarik perhatian saya adalah sebuah tas dari kertas khusus yang anti air dan bertekstur seperti plastik/kanvas. Agak kaku dan sedikit lecek – persis kertas, tapi cukup kuat untuk dijahit dan dijadikan tas. Nama bahannya saya lupa… *maaf… πŸ˜€ * Menarik sekali, warnanya agak monokrom – putih, abu-abu, dan hitam – sehingga bisa bebas kalau mau di-costumize sendiri. Harganya mulai dari rp. 300k.

Nah, dari pengamatan selayang pandang di Brightspot yang super-duper ramai itu, sebagian besar (mungkin semua…) pengunjung datang untuk mencari sesuatu yang berbeda, yang baru, yang bisa membedakan mereka dengan orang lain. Baju dengan potongan unik, merek baru, gaya berbeda, bahan inovatif. Untuk itu, semua berbondong-bondong datang ke Brightspot. Dan, pada akhirnya semua barang yang unik itu dimiliki tidak hanya oleh satu-dua orang, tentunya, tapi oleh ratusan orang lain. It becomes a mass-prestige, a masstige.

Seperti musik indie, brand-brand yang sebelumnya indie pun nantinya akan menjadi besar dan menjadi mainstream label. Dan saya tidak akan bilang bahwa ini negatif. In fact, ini positif. Dengan bergeraknya brand-brand indie jadi mainstream bukankah membuka ruang baru di masyarakat untuk brand-brand indie baru? Dan, ini kan, yang kita inginkan? Jadi kita selalu punya barang-barang masstige yang bisa membuat kita merasa sedikit istimewa dibandingkan dengan orang lain… No?

Advertisements

3 thoughts on “Brighspot – In search of masstige things

  1. Bayu Maitra @ areamagz.com says:

    Halo Nena, salam kenal ya…

    Cuma mau menanggapi sedikit soal Brightspot Market. Satu hal yang kurang sreg buat saya ialah harga barang produksi lokal di sana terbilang mahal, bahkan bisa menyaingi atau melebihi barang impor. Ini yang menurut saya sedikit aneh. Ok, mereka memang ingin memajukan produk negeri sendiri, dan sebagian berdalih bahwa yang mahal adalah idenya. Saya bisa menerima ini. Tapi, buat saya, mematok harga setinggi langit juga tak bijak. Barang impor menjadi mahal karena alasan yang jelas, yaitu adanya biaya shipping dan tentunya nama besar dan kualitas brand itu sendiri. Jadi, bijak dalam menentukan banderol adalah satu hal yang musti dipertimbangkan masak-masak oleh produsen produk lokal.

    Cheers πŸ˜€

    • Nena Brodjonegoro says:

      Hai Bayu, salam kenal juga!

      Iya sih, harganya memang cukup mahal. Saya rasa, bukan masalah ongkos produksi – tapi kreatifitas. Mungkin yang membuat mahal adalah hak atas kekayaan intelektualnya itu..

      Tapi, di hari terakhir, mulai jam 10an gitu harganya didiskon sampai 70% lho… Jadi ‘hanya’ 50rb-an saja.. πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s