Ramadhan hari 9: we miss you Bapak!!

Hari ini jam 4 pagi Bapak udah rapi jali, siap berangkat ke bandara. Jam 4.03 Bapak pamit, mamam cium tangan, dan Triya masih bobok di kamar setelah dicium Bapak. Jam 4.04 Bapak meluncur ke bandara. Jam 4.10 si mamam masuk ke kamar dan liyap-liyep di atas kasur. Jam 4.30 si mamam ketiduran.

Jam 7.30 Triya mulai terbangun dan ngebangunin mamam. Jam 7.35 mamam dan Triya sarapan, sambil berharap si mbak cepet bangun karena jam 8.30 mamam harus berangkat kerja. Hari ini ada jadwal untuk simtrans, dan jam 10 rencananya grup yang pertama mulai. Jam 8 mbak bangun, dan mulai beberes kamar. Jam 8.15 mamam mulai mandi setelah masak nasi goreng dan 50% nyuapin Triya makan. Jam 8.40 mamam cium Triya, pamit, dan meluncur.

Jam 9.45 mamam udah sampai di Blok M, tempat simtrans. Di sana sudah ada 1 orang lagi translator. Jam 10.00 kliennya datang, moderator datang, dan mereka mulai diskusi, tapi para translator masih belum dibutuhkan. Jam 11.00 makan siang pesanan kita, yaitu Hoka-Hoka Bento datang. Kita masih belum juga dipanggil. Ternyata klien dan moderator masih diskusi, atau kelihatannya sih berdebat. Jam 12.00, partner translator bilang, “Feeling gue kayaknya sesi siang nanti dicancel deh…”. Jam 12.30 ternyata komentar si partner dikonfirmasi dan kita pun bisa pulang.

Jam 13.00 mamam jalan kaki ke Blok M Square karena mau cari hadiah lebaran untuk si mbak. Jam 13.20 mamam udah nenteng duffel bag yang pakai troli di bagian bawahnya untuk hadiah lebaran si mbak. Jam 13.50 mamam nyangkut di toko emas langganan, ngobrol ngalor-ngidul. Jam 14.45 mamam jalan kaki lagi ke Blok M Plaza, tempat parkir mobil, dan meluncur pulang. Jam 15.50 sampai di rumah, Triya lagi mau mandi.

Jam 16.10 Triya udah rapi, wangi, cantik, siap untuk jalan-jalan sore sambil makan dan main sama temen-temennya. Mamam masuk ke kamar kerja dan mendata stok barang dagangan, ricek agenda, cek email dan mencari inspirasi untuk artikel yang harus disubmit malam ini. Jam 17.15 Triya pulang ke rumah dan melanjutkan makan sambil main-main sama mamam. Jam 18.00 Triya mulai ngantuk dan cranky. Jam 18.20 mamam makan malam setelah sebelumnya sholat maghrib dulu. Jam 18.50 Triya udah ganti baju tidur, udah selesai nenen dan matanya mulai kliyepan ngantuk. Jam 19.00 Triya bobok.

Antara jam 19.00 dan sekarang, jam 21.30, mamam kerja, balas email, cek Facebook, mempelajari beberapa dokumen yang baru masuk lewat email, dan order barang dagangan. Antara jam 7.30 dan sekarang, jam 21.31, mamam belum keinget bapak. Tapi sekarang, jam 21.32, ketika Triya udah bobok, kerjaan udah selesai, blog post sudah hampir selesai, mamam inget bapak. Dan betapa nggak ada suara ngorok halus di sisi kanan tempat tidur, nggak ada komentar kecil soal Triya yang tidurnya suka nendang-nendang, nggak ada AC yang diarahkan langsung ke kepala.

I miss you dearest. But I’ll wait here until you come home. :)

We miss you bapak

Ramadhan day 8: is there such thing as too much of a good thing?

You know the feeling you get when you wanted to eat a red velvet cake, but somehow you couldn’t find one that you really want? And then you forget about it. Days after, there was a knock on the door. And when you open it, there it was, the delivery guy from Convivium (they do delivery, in my imagination), bringing you a big slice of red velvet cake. You didn’t even realize that you want it. But when it’s right in front of you, you get a rush of saliva in your mouth and you couldn’t stop thinking about how the cake would melt in your mouth and how you would like to share the cake with your loved one.

That’s what I feel last night, when after two text messages and four emails, I decided to take up on a new challenge: being a lecturer at my alma mater’s international program. Just like the red velvet cake, I didn’t know that I wanted it. But when I was offered a position as a lecturer for “PR & Media Production” class, I just couldn’t say no and ended up feeling very excited about it.

I immediately thought about what I am going to say in the first meeting, what I want the students to read, how am I going to conduct the class, and how I am going to divide the grading components for the students. HAH! :D Saying that I am excited would be a tiny bit of an understatement.

This is indeed a new challenge, and I am curious as to how I am going to do it. Will I do well? Will my students like me? Does the phrase “those who cannot do, teach” apply to me?

At this point, I am rather relaxed. Perhaps that’s because the class doesn’t start until September. At this point, I also doubt my academic skill since it was recently proven that my academic writing skill has deterred compared to some time ago. But then again, I know that I have much more to share than just about writing academic text. I know I can share about the daily life of a PR people. I know I can share the ups & downs and the challenges that a social media strategist face today. And if nothing else, I know for sure I can share my enthusiasm and passion about taking up on challenges that life brings me. :)

Wish me luck!

Ramadhan day 2: what are you really good at?

Today’s highlight was a surprise visit from a dear friend, Rassi. She dropped by at our place after she ran her errands at a nearby hospital and spent some an-hour-and-a-half with me and Triya – chit-chatting about this and that and everything in between. As every conversation is with her, this one left me pondering upon one question that I seem to receive quite a lot this past two weeks. What are you really good at?

Being a freelancer, I was suppose to know the answer to this very well, right? But, no. It took me some time to answer, and even the answer left me feeling slightly insecure, slightly optimistic, and slightly motivated. Why? Because the truth is I don’t think I’m really that good at what I answered the question with.

I mean, what am I really good at? Being a mom is still a questionable answer.

Then I thought about being a strategist. But that one also still needs some acknowledgement. Plus, I consider myself lacking a creative dimension in my thoughts, which I think makes me a less-good strategist. Because in this era of creative economy, one must apply creativity in everything one’s doing, mustn’t one?

So I moved on to the next possible answer: a wife. Then I remember that I don’t cook really well, despite my superb attention to organizing and cleaning the house. Oh, and I don’t make Ei breakfast in bed every weekend. We’d both rather drive to our favorite bubur ayam stall. :D

On to the next one, I thought about a team-member/team-organizing. Because if there’s one thing I realize after freelancing for 2.5 years is that I think I work better in team. I feel motivated in team, and I feel that I can motivate the other members too. I like working alongside people – the chat, the discussion, the brainstorming, the inside joke, the boring anecdotes that somehow is always exciting. To be honest, that’s what I miss the most about working in an office – instead of at a desk in the study at the luxury of my own house.

After carefully pondering about all the possible answers, I decided on two things that I decided I will be good at. And those two are strategizing & organizing/managing team. At this point, I don’t think I’m really good at it, but I’ve decided that I will be good at it. It may take some time, and some errors, and some failures, but it’s decided. I am going to be really good on those two things, not because I know I am, but because I know I will be. :)

 

Ramadhan hari 1: Harinya si Bebek

Alhamdulillah, Ramadhan tlah tiba! Hore! Hore! Hore! :D

Alhamdulillah, tahun ini puasa Ramadhan yang “pertama” lagi.. Kalau tahun lalu adalah Ramadhan yang pertama dengan kehadiran si Bibil alias Triya, maka tahun ini adalah Ramadhan yang pertama lagi di Jakarta dan di rumah baru. Senang? Jelas…

Jadi, dengan bergesernya domain ke laquesta.me, harapannya sih supaya saya jadi lebih merasa terpacu untuk update blog dengan lebih rutin dan teratur. Dan, rasanya momen Ramadhan ini jadi momen yang pas untuk banyak refleksi dan banyak belajar, dan hasilnya bisa dishare di blog. Dengan demikian, rencana 1 post 1 hari selama Ramadhan pun muncul dan dimulai hari ini.

Pembelajaran hari ini datang dari si Bibil, ketika dalam perjalanan dari rumah mama di Joglo, ke rumah saya di Bintaro. Karena masih siang, perjalanannya memakan waktu sekitar 40 menit. Saya nyetir, Triya duduk di carseat di belakang saya. Karena sudah menjelang jam-jamnya nenen, Triya sedikit cranky. Dan, setiap kali Triya mulai cranky, senjata andalan si mamam adalah nyanyi! Hahaha.. Bukannya karena suaranya bak biduanita, tapi karena dari kecil Triya terbiasa dinyanyiin aja segala macem. Jadi biasanya nyanyi bisa bantu dia untuk lebih tenang.

So there I was, singing to my daughter.

Akyu: Triya mau dinyanyiin apa? Cicak?

Triya: Cicak

A: (mulai nyanyi cicak-cicak di dinding, sampai kepotong Triya ngomong)

T: agi! agi!

A: Lagi apa? Nyanyi? Lagu cicak apa lagu bebek?

T: Bebek

A: (mulai nyanyi potong bebek angsa, sampai kepotong Triya ngomong)

T: agi! agiii! agiii!!

A: Lagi apa? Triya mau lagu apa? Lagu bebek lagi?

T: Bebek!

A: (mulai nyanyi potong bebek angsa, sampai kepotong Triya ngomong)

T: agii!! agiii!! agiiii!!!

…dan demikian seterusnya sampai kira-kira 10 menit. Setiap kali mulai nyanyi lagu yang dia suka (ataupun nggak suka), Triya akan teriak “Agii! agiii!!” – minta ganti lagu atau ngulang lagunya. Lama-lama si mamam mulai spaneng juga, dan mulai ngomong dengan nada kenceng sama Triya.

A: Triya mau lagu apa?? Kan mamam lagi nyanyi lagunya.. Kalo Triya ngomong terus mamam nggak nyanyi!

T: (mulai ngerengek)

A: (mulai nyanyi lagi)

…dan episode itu masih berlanjut terus, dengan gue yang merasa rada kesel karena Triya teriak-teriak dan motong lagu yang dia minta, dan Triya yang terus teriak-teriak. Akhirnya mungkin berkah Ramadhan datang, atau entah apa, akhirnya gue menyerah, dan mengulang nyanyian setiap dia mulai protes. Lagu bebek baru dua baris udah diulang lagi. Lagu cicak baru tiga baris udah diulang lagi. Lagu kuda baru mulai udah dipotong. Balik lagi ke lagu bebek yang cuma bertahan tiga baris. Terus begitu sampai kita sampai di rumah.

Capek? Jelas… Tapi yang capek cuma mulut, hatinya batal capek karena udah diputuskan untuk nyanyi aja supaya Triya seneng. Lagian, berapa lama lagi sih, gue bisa nyanyi buat dia sebelum dia bener-bener nggak mau dengerin gue nyanyi?

Si Bibil bobok

Catatan tentang Serah Terima Rumah Baru

Namanya pindah rumah dan punya rumah baru pasti seru-seru-seram yaa?? Mulai dari bebenahnya, bebersihnya, dan lain sebagainya. Dan, awal Februari kemarin, saya, Ei dan Triya baru mengalami pindahan ke rumah baru. Ceritanya panjang dan lama.. beda tipis sama Coki-coki. :D Tapi, dari cerita yang panjang dan lama itu, akhirnya ada beberapa poin pembelajaran yang saya rasa worth sharing buat sodara-sodari sekalian.. Jadi, buat yang blank banget soal properti (baca: saya), it’s good to know a few things:

  • Bangun rumah itu memang harus cerewet sama tukang. Kadang, pemahaman kita dan tukang agak beda soalnya. Jadi, if you have time and energy, pantaulah setiap hari pembangunan rumahnya. Kalau nggak, harus ekstra detail ngasih tahu keinginan-keinginan kita.
  • Kalau beli rumah dari developer, harus ekstra cerewet dan hati-hati di tahap pembangunan, dan pada saat serah terima rumah.
  • Instalasi air itu penting banget. Jadi, kalau memungkinkan, pantaulah dengan seksama proses intalasi air – sambungan pipa, lem antara sambungan pipa, ukuran pipa untuk saluran buangan, dll.
  • Acuan standar untuk instalasi listrik adalah: di atas terus (jadi kira-kira deket plafon), baru turun di titik listrik (misalnya stop kontak, titik AC, dll)
  • Acuan standar untuk instalasi air adalah: di bawah terus (jadi kira-kira deket dengan lantai),  baru naik di titik air (misalnya, sink, shower, dll) — kecuali kita minta spesifik instalasi air di atas, supaya gampang kalo ada yang bocor atau apa.

Nah, hal-hal di atas ini baru saya ketahui ketika saya diminta Ei untuk bantu ngawasin tukang yang lagi renovasi rumah. Sebelum ceritanya lanjut, perlu diketahui juga kalau rumah yang saya tempati sekarang adalah rumah baru, yang belum pernah ditempati, tapi sudah serah-terima dari developer. Rumahnya di daerah Bintaro Jaya Sektor 9. :D Selanjutnya, untuk renovasi ini kita pakai tukang langganan sendiri. Yang direnovasi cukup banyak, tapi tidak ada yang major. Misalnya, kita bobok tembok untuk nambahin glass block, bobok tembok di bawah tangga untuk nambahin storage space, nguruk tanah di bagian belakang dapur dan dikeramik supaya bisa jadi area servis tambahan, pokoknya gitu-gitu lah. Nggak pakai nambah dak atau apa gitu yang perlu nambah struktur. Oiya, sebelum kita masuk, ternyata ada kebocoran di atap yang menyebabkan plafon yang terbuat dari GRC, jebol, di salah satu kamar. Dan, berdasarkan info, kebocoran masih termasuk dalam garansi developer selama 1 tahun (yang artinya sekarang ini masih termasuk). Jadi kita pun mengkontak developer untuk ngebetulin plafon yang jebol ini di pertengahan Januari, ketika kita pertama kali melihat rumah ini. Selain itu, kita juga hire tukang sendiri untuk renovasi-renovasi lain. Proses renovasi berjalan, dan di tengah proses renovasi – ketika air mulai banyak dinyalakan dan kamar mandi mulai dipakai – muncullah bocor-bocor di mana-mana. Tepatnya di: kamar mandi kamar utama, kamar mandi pembantu, dan sink dapur. Kebocoran-kebocoran di dalam ini sudah nggak bisa diklaim ke developer lagi karena sudah lewat waktu garansinya (yang kalo nggak salah hanya 3 bulan – untuk tembok retak-retak dan instalasi air). Jadi, tukang kita pun mulai menelusuri penyebab kebocoran ini. Ternyata masalahnya lebih besar dari dugaan kita: saluran pembuangan bocor, sambungannya nggak dilem, sehingga pembuangannya jadi menetes ke bawah, dan tembus ke plafon lantai bawah. Dan, yang lebih parah lagi, ternyata lantai di bawah kamar mandi itu cuma di cor seadanya. Hanya sekedar diawur pasir, dan dilapis semen, setelah itu ditutup kramik! ARGH! Masalah kualitas bangunan ini banyak banget yang mengecewakan. Tampilan luarnya memang cantik, tapi ternyata dalamnya rada ble’e… Selain lantai yang nggak dicor dengan sempurna, dinding juga aciannya rada ble’e. Berhubung Ei dan saya prefer untuk ngebor sendiri beberapa benda di dinding, we know perfectly well about this wall. Banyak banget fisher yang nggak ‘nggigit’ ke tembok, dan akhirnya kita harus geser titik ngebornya. Dan, awal ngebornya keras karena harus ngebor keramik, tapi abis itu los banget, karena cuma ketemu bata aja, dan aciannya sekenanya banget… Ya well, nggak bisa nyalahin juga ya, namanya juga kerjaan developer, nyari untung dan ngejar cepet selesai aja. Tapi susah banget rasanya untuk bisa mengiklaskan itu, hehe. Apalagi ada satu “trik” yang kayaknya sering dilakukan developer, dan yang kita alami. Jadi, untuk plafon yang jebol itu, kita kontak di awal Januari. Dan constant reminder setiap 1 minggu sekali, 3 hari sekali, selama 2 bulan terus kita lakukan, tapi tanpa hasil. Entah yang katanya kita harus bikin laporan resmi dulu lah (dan kita pun lakukan. 2 kali.), dan tukangnya masih ngejar pembangunan di cluster sebelah, dan tukangnya kecelakaan sehingga sekarang tukangnya mereka cuma 1. Jadi akhirnya plafon jebol itu pun kita yang ganti sendiri. Dan menurut saya, memang ini trik developer: dilama-lamain pengerjaannya, sehingga kita yang udah ngejar waktu untuk pindah dan masuk ke rumah baru akhirnya terpaksa ngerjain sendiri, jadi mereka nggak keluar waktu dan tenaga deh buat ngerjain punya kita!! Tadaaa!!! *empet banget, sorry ya* Anyways.. berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, please, untuk temen-temen lain yang mau cicil rumah dan akan serah terima, berikut ini ada beberapa tips berdasarkan pengalaman saya dan Ei kemarin:

  • Cek dinding ada yang retak atau nggak
  • Cek pemasangan kusen & engsel-engsel pintu dan jendela udah oke apa belom
  • Cek saluran pembuangan kamar mandi dan septiktank – ada yang bau apa nggak. Kalau ada bau di kamar mandi, kemungkinan arah pipa pengeluaran udara septiktank nggak bener, atau jangan-jangan pipanya cuma asal tancap aja..
  • Buka semua kran dan flush selama beberapa saat, sambil cek meteran air. Habis itu, matiin semua kran, dan cek lagi meteran air. Kalau meteran air berhenti total – it’s a good sign. Kalau meteran air muter, terus mati, terus muter lagi pelan – artinya ada pipa yang bocor di balik dinding. Buka lagi semua kran selama beberapa saat, cek ada rembesan air atau nggak
  • Deal sama developer bahwa nanti abis hujan besar akan cek lagi untuk kebocoran

Yak, ternyata postingan ini panjang sekali! Hehe… Tapi walaupun demikian mudah-mudahan postingan ini bisa membantu teman-teman yang sedang atau akan membangun atau membeli rumah agar lebih smart lagi. :)

Tampak depan

Tampak dalam

Taman samping

Introducing: Kiosquette!!

Dearest friends,

Here it goes, my official announcement of my small venture of retail business: Kiosquette! YAY!! *tepok-tepok* *confetti please…*

Berawal dari setengah tahun lalu, waktu saya jatuh cinta dengan benda kecil yang wangi dan lucu-lucu bernama Pocketbac dan holdernya, saya pun mulai iseng-iseng jualan Pocketbac ini. Ke teman-teman dan keluarga dekat, awalnya. Lalu ternyata respon pasar cukup lumayan, sehingga saya pun memutuskan untuk memesan langsung ke Amerika dalam jumlah yang cukup besar (baca: sekitar 50 yeee, bukan sekitar 500 pcs.. namanya juga small venture.. ;) ).

Holder edisi Natal, seperti ini! Lucu ya!

Holder edisi Natal, seperti ini! Lucu ya!

 

Ternyata bisnis kecil ini berjalan lumayan, dan saya makin lama makin suka sama si Pocketbac ini. Pertama, wanginya ueeeenaaakk tenaan! Kedua, wanginya muaceeeem-muacem tenaann!! Dan ketiga, holdernya juga macem-macem banget – mulai dari yang berwarna-warni, pakai bling-bling, dan berbentuk karakter, atau cuma sekedar warna hitam polos. Wangi dan bentuk holdernya juga macem-macem, dan berganti sesuai season. Jadi ada wangi dan bentuk holder yang bernuansa winter atau Natal, seperti snowman, gingerbread, dll; atau sekarang ada yang bernuansa spring, seperti gelas cocktail, sangria, wangi mangga, dll. Lucu ya!!

Scentportable holder Loop n Go - salah satu new arrival di Kiosquette

Scentportable holder Loop n Go – salah satu new arrival di Kiosquette

Anyways, tapi namanya bisnis, pasti ada resikonya. Baru-baru ini cobaan pertama datang menghadang. :) Barang kiriman dari US seberat 16kg berisi beraneka rupa holder, Pocketbac, scentportable, hand soap, body lotion, shampoo – raib entah kemana. Dikirim tanggal 24 Januari, pakai Express Mail Int’l. Lalu berdasarkan status tracking di USPS, tanggal 29 Januari sudah “Customs Clearance”. Tanggal 21 Februari, cek di USPS statusnya masih “Customs Clearance”. Lalu tanggal 11 Maret, status di USPS jadi: “Delivery Status Information is not available for this item via website. A return receipt may be available after mailing through your local post office.” Jeng jeeengg!!

Lalu saya mencoba tracking di Pos Indonesia dan di EMS. Hasilnya nol besar. Nomor tracking paket saya nggak ada di database Pos dan EMS. Saya pun telpon ke Bea Cukai di Pasar Baru dan di Soekarno Hatta, dan keduanya bilang kalau nomor tracking paket saya tidak ada di data Bea Cukai. Nah lho! Telpon ke Kantor Pos Pasar Baru pun hasilnya sama… Haiyaah… Sekarang, tinggal saya mencoba datang ke KP Pasar Baru untuk coba cek langsung. Hasilnya? Belum tahu, soalnya belom ke sana.. Hehehe..

So, lesson learned no. 1: there will always be a risk within your business. Be ready, be strong, and be sa-bisa lah mengatasinya… (maksudnya, bisa-bisalah mengatasinya.. :D ). Lesson learned no. 2: jangan ngirim barang banyak-banyak dari Amerika. Mungkin jumlah yang besar itu menimbulkan kecurigaan atau godaan-godaan bagi oknum tertentu, atau membuat paket tersebut susah di clear oleh Cukai.

Nah, terlepas dari hal tersebut – life must go on, and so does business! Jadi, dengan ini saya resmi memperkenalkan Kiosquette!! Bisnis kecil-kecilan, yang saat ini menjual printil-printil manis dari Bath and Body Works serta mukena cantik dari katun Jepang. :) Doakan semoga bisnisnya lancar, dan paketnya keluar dari Cukai, dan di masa yang akan datang nanti yang dijual bisa bertambah yaa.. :)

kiosquette logo