Catatan tentang Serah Terima Rumah Baru

Namanya pindah rumah dan punya rumah baru pasti seru-seru-seram yaa?? Mulai dari bebenahnya, bebersihnya, dan lain sebagainya. Dan, awal Februari kemarin, saya, Ei dan Triya baru mengalami pindahan ke rumah baru. Ceritanya panjang dan lama.. beda tipis sama Coki-coki. :D Tapi, dari cerita yang panjang dan lama itu, akhirnya ada beberapa poin pembelajaran yang saya rasa worth sharing buat sodara-sodari sekalian.. Jadi, buat yang blank banget soal properti (baca: saya), it’s good to know a few things:

  • Bangun rumah itu memang harus cerewet sama tukang. Kadang, pemahaman kita dan tukang agak beda soalnya. Jadi, if you have time and energy, pantaulah setiap hari pembangunan rumahnya. Kalau nggak, harus ekstra detail ngasih tahu keinginan-keinginan kita.
  • Kalau beli rumah dari developer, harus ekstra cerewet dan hati-hati di tahap pembangunan, dan pada saat serah terima rumah.
  • Instalasi air itu penting banget. Jadi, kalau memungkinkan, pantaulah dengan seksama proses intalasi air – sambungan pipa, lem antara sambungan pipa, ukuran pipa untuk saluran buangan, dll.
  • Acuan standar untuk instalasi listrik adalah: di atas terus (jadi kira-kira deket plafon), baru turun di titik listrik (misalnya stop kontak, titik AC, dll)
  • Acuan standar untuk instalasi air adalah: di bawah terus (jadi kira-kira deket dengan lantai),  baru naik di titik air (misalnya, sink, shower, dll) — kecuali kita minta spesifik instalasi air di atas, supaya gampang kalo ada yang bocor atau apa.

Nah, hal-hal di atas ini baru saya ketahui ketika saya diminta Ei untuk bantu ngawasin tukang yang lagi renovasi rumah. Sebelum ceritanya lanjut, perlu diketahui juga kalau rumah yang saya tempati sekarang adalah rumah baru, yang belum pernah ditempati, tapi sudah serah-terima dari developer. Rumahnya di daerah Bintaro Jaya Sektor 9. :D Selanjutnya, untuk renovasi ini kita pakai tukang langganan sendiri. Yang direnovasi cukup banyak, tapi tidak ada yang major. Misalnya, kita bobok tembok untuk nambahin glass block, bobok tembok di bawah tangga untuk nambahin storage space, nguruk tanah di bagian belakang dapur dan dikeramik supaya bisa jadi area servis tambahan, pokoknya gitu-gitu lah. Nggak pakai nambah dak atau apa gitu yang perlu nambah struktur. Oiya, sebelum kita masuk, ternyata ada kebocoran di atap yang menyebabkan plafon yang terbuat dari GRC, jebol, di salah satu kamar. Dan, berdasarkan info, kebocoran masih termasuk dalam garansi developer selama 1 tahun (yang artinya sekarang ini masih termasuk). Jadi kita pun mengkontak developer untuk ngebetulin plafon yang jebol ini di pertengahan Januari, ketika kita pertama kali melihat rumah ini. Selain itu, kita juga hire tukang sendiri untuk renovasi-renovasi lain. Proses renovasi berjalan, dan di tengah proses renovasi – ketika air mulai banyak dinyalakan dan kamar mandi mulai dipakai – muncullah bocor-bocor di mana-mana. Tepatnya di: kamar mandi kamar utama, kamar mandi pembantu, dan sink dapur. Kebocoran-kebocoran di dalam ini sudah nggak bisa diklaim ke developer lagi karena sudah lewat waktu garansinya (yang kalo nggak salah hanya 3 bulan – untuk tembok retak-retak dan instalasi air). Jadi, tukang kita pun mulai menelusuri penyebab kebocoran ini. Ternyata masalahnya lebih besar dari dugaan kita: saluran pembuangan bocor, sambungannya nggak dilem, sehingga pembuangannya jadi menetes ke bawah, dan tembus ke plafon lantai bawah. Dan, yang lebih parah lagi, ternyata lantai di bawah kamar mandi itu cuma di cor seadanya. Hanya sekedar diawur pasir, dan dilapis semen, setelah itu ditutup kramik! ARGH! Masalah kualitas bangunan ini banyak banget yang mengecewakan. Tampilan luarnya memang cantik, tapi ternyata dalamnya rada ble’e… Selain lantai yang nggak dicor dengan sempurna, dinding juga aciannya rada ble’e. Berhubung Ei dan saya prefer untuk ngebor sendiri beberapa benda di dinding, we know perfectly well about this wall. Banyak banget fisher yang nggak ‘nggigit’ ke tembok, dan akhirnya kita harus geser titik ngebornya. Dan, awal ngebornya keras karena harus ngebor keramik, tapi abis itu los banget, karena cuma ketemu bata aja, dan aciannya sekenanya banget… Ya well, nggak bisa nyalahin juga ya, namanya juga kerjaan developer, nyari untung dan ngejar cepet selesai aja. Tapi susah banget rasanya untuk bisa mengiklaskan itu, hehe. Apalagi ada satu “trik” yang kayaknya sering dilakukan developer, dan yang kita alami. Jadi, untuk plafon yang jebol itu, kita kontak di awal Januari. Dan constant reminder setiap 1 minggu sekali, 3 hari sekali, selama 2 bulan terus kita lakukan, tapi tanpa hasil. Entah yang katanya kita harus bikin laporan resmi dulu lah (dan kita pun lakukan. 2 kali.), dan tukangnya masih ngejar pembangunan di cluster sebelah, dan tukangnya kecelakaan sehingga sekarang tukangnya mereka cuma 1. Jadi akhirnya plafon jebol itu pun kita yang ganti sendiri. Dan menurut saya, memang ini trik developer: dilama-lamain pengerjaannya, sehingga kita yang udah ngejar waktu untuk pindah dan masuk ke rumah baru akhirnya terpaksa ngerjain sendiri, jadi mereka nggak keluar waktu dan tenaga deh buat ngerjain punya kita!! Tadaaa!!! *empet banget, sorry ya* Anyways.. berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, please, untuk temen-temen lain yang mau cicil rumah dan akan serah terima, berikut ini ada beberapa tips berdasarkan pengalaman saya dan Ei kemarin:

  • Cek dinding ada yang retak atau nggak
  • Cek pemasangan kusen & engsel-engsel pintu dan jendela udah oke apa belom
  • Cek saluran pembuangan kamar mandi dan septiktank – ada yang bau apa nggak. Kalau ada bau di kamar mandi, kemungkinan arah pipa pengeluaran udara septiktank nggak bener, atau jangan-jangan pipanya cuma asal tancap aja..
  • Buka semua kran dan flush selama beberapa saat, sambil cek meteran air. Habis itu, matiin semua kran, dan cek lagi meteran air. Kalau meteran air berhenti total – it’s a good sign. Kalau meteran air muter, terus mati, terus muter lagi pelan – artinya ada pipa yang bocor di balik dinding. Buka lagi semua kran selama beberapa saat, cek ada rembesan air atau nggak
  • Deal sama developer bahwa nanti abis hujan besar akan cek lagi untuk kebocoran

Yak, ternyata postingan ini panjang sekali! Hehe… Tapi walaupun demikian mudah-mudahan postingan ini bisa membantu teman-teman yang sedang atau akan membangun atau membeli rumah agar lebih smart lagi. :)

Tampak depan

Tampak dalam

Taman samping

Introducing: Kiosquette!!

Dearest friends,

Here it goes, my official announcement of my small venture of retail business: Kiosquette! YAY!! *tepok-tepok* *confetti please…*

Berawal dari setengah tahun lalu, waktu saya jatuh cinta dengan benda kecil yang wangi dan lucu-lucu bernama Pocketbac dan holdernya, saya pun mulai iseng-iseng jualan Pocketbac ini. Ke teman-teman dan keluarga dekat, awalnya. Lalu ternyata respon pasar cukup lumayan, sehingga saya pun memutuskan untuk memesan langsung ke Amerika dalam jumlah yang cukup besar (baca: sekitar 50 yeee, bukan sekitar 500 pcs.. namanya juga small venture.. ;) ).

Holder edisi Natal, seperti ini! Lucu ya!

Holder edisi Natal, seperti ini! Lucu ya!

 

Ternyata bisnis kecil ini berjalan lumayan, dan saya makin lama makin suka sama si Pocketbac ini. Pertama, wanginya ueeeenaaakk tenaan! Kedua, wanginya muaceeeem-muacem tenaann!! Dan ketiga, holdernya juga macem-macem banget – mulai dari yang berwarna-warni, pakai bling-bling, dan berbentuk karakter, atau cuma sekedar warna hitam polos. Wangi dan bentuk holdernya juga macem-macem, dan berganti sesuai season. Jadi ada wangi dan bentuk holder yang bernuansa winter atau Natal, seperti snowman, gingerbread, dll; atau sekarang ada yang bernuansa spring, seperti gelas cocktail, sangria, wangi mangga, dll. Lucu ya!!

Scentportable holder Loop n Go - salah satu new arrival di Kiosquette

Scentportable holder Loop n Go – salah satu new arrival di Kiosquette

Anyways, tapi namanya bisnis, pasti ada resikonya. Baru-baru ini cobaan pertama datang menghadang. :) Barang kiriman dari US seberat 16kg berisi beraneka rupa holder, Pocketbac, scentportable, hand soap, body lotion, shampoo – raib entah kemana. Dikirim tanggal 24 Januari, pakai Express Mail Int’l. Lalu berdasarkan status tracking di USPS, tanggal 29 Januari sudah “Customs Clearance”. Tanggal 21 Februari, cek di USPS statusnya masih “Customs Clearance”. Lalu tanggal 11 Maret, status di USPS jadi: “Delivery Status Information is not available for this item via website. A return receipt may be available after mailing through your local post office.” Jeng jeeengg!!

Lalu saya mencoba tracking di Pos Indonesia dan di EMS. Hasilnya nol besar. Nomor tracking paket saya nggak ada di database Pos dan EMS. Saya pun telpon ke Bea Cukai di Pasar Baru dan di Soekarno Hatta, dan keduanya bilang kalau nomor tracking paket saya tidak ada di data Bea Cukai. Nah lho! Telpon ke Kantor Pos Pasar Baru pun hasilnya sama… Haiyaah… Sekarang, tinggal saya mencoba datang ke KP Pasar Baru untuk coba cek langsung. Hasilnya? Belum tahu, soalnya belom ke sana.. Hehehe..

So, lesson learned no. 1: there will always be a risk within your business. Be ready, be strong, and be sa-bisa lah mengatasinya… (maksudnya, bisa-bisalah mengatasinya.. :D ). Lesson learned no. 2: jangan ngirim barang banyak-banyak dari Amerika. Mungkin jumlah yang besar itu menimbulkan kecurigaan atau godaan-godaan bagi oknum tertentu, atau membuat paket tersebut susah di clear oleh Cukai.

Nah, terlepas dari hal tersebut – life must go on, and so does business! Jadi, dengan ini saya resmi memperkenalkan Kiosquette!! Bisnis kecil-kecilan, yang saat ini menjual printil-printil manis dari Bath and Body Works serta mukena cantik dari katun Jepang. :) Doakan semoga bisnisnya lancar, dan paketnya keluar dari Cukai, dan di masa yang akan datang nanti yang dijual bisa bertambah yaa.. :)

kiosquette logo

 

Cerita Sleep Training-nya Triya

Triya sekarang 10 bulan, and we just made a breakthrough! Okey, mungkin nggak segitunya sih, tapi yang jelas perkembangan baru ini membuat hati saya dan Ei senang!

Jadi, Triya sekarang bisa tidur. Maksudnya bisa tidur adalah, bisa tidur sendiri, tanpa harus dinenenin  atau digendong-gendong atau digoyang-goyang sampai nyenyak, baru kemudian bisa kita taruh di tempat tidur. Sekarang Triya udah bisa soothe herselft to sleep! Jadi tinggal ditaruh, terus dia akan bolak-balik sambil mengeluarkan suara-suara lucu (biasanya yang keluar adalah suara “hhheeehhhhhhhhh” atau “aahhhhhhhh”), terus nanti lama-lama merem sendiri dan tidur sendiri! Hehe. Rahasianya? Cry-it-out method.

Memang sih, metode sleep training yang satu ini agak kontroversial, karena basically melibatkan kita sebagai orang tua untuk ngebiarin si anak nangis. Some see it as evil, some see it as effective. Buat saya dan Ei, it was a necessary process. Diawali dengan kita mulai berpikir bahwa Triya harusnya udah bisa tidur di kasurnya sendiri – bukan tidur di tempat tidur bareng kita lagi. Karena, sooner or later kan dia harus tidur sendiri juga, so might as well start early. Ternyata, we were a tad bit too late. Teori mengatakan bahwa sebenernya sejak umur 4-6 bulan bayi udah bisa diajarin untuk tidur sendiri. Jadi, kita telat sekitar 4 bulan. Tapi, telat sendiri juga relatif kok. Buat saya dan Ei, sekarang adalah waktu yang cukup tepat – karena Triya udah mulai ngerti. Dia tahu kalau siang saya dan Ei mencurahkan kasih-sayang ke dia (ciyeeeh), jadi kalau malam-malam kita biarin dia nangis dia nggak akan ngerasa di-abandon. :D

Anyways, jadi setelah saya dan Ei memutuskan untuk mulai sleep training Triya, kita mulai browsing selengkap-lengkapnya. Informasi tentang tips praktis seputar CIO atau cry-it-out method kita dapat dari babycenter. Menurut kita, informasinya cukup komprehensif dan ada langkah-langkah untuk mulai dari expertnya. Setelah itu, the game began.

Malam pertama, Triya dinenenin sampai kenyang dan ngantuk, setelah itu langsung ditaruh di boxnya sendiri. Dia ngamuk. Nangis. Kita tinggal dia di dalam kamar, dan kita keluar. Setelah 3 menit, kita masuk, tepuk-tepuk dia dan memposisikan Triya di posisi tidur (karena Triya nangis sambil berdiri gitu), terus kita tinggal lagi. Setelah 5 menit, kita masuk lagi, do the same routine, keluar lagi. Setelah 10 menit masuk lagi, dan terus begitu sampai… 2 jam! Akhirnya Triya kecapekan dan tidur… Hehe…

Malam kedua, Triya nangis-nangis selama 1,5 jam. Malam ketiga, Triya nangis-nangis kecil selama setengah jam. Malam keempat, Triya udah nggak nangis, cuma uh-ah-uh-ah aja selama 15 menit. Malam kelima, 5 minutes and she was down!

Triya bobok sopan

Continue reading

US Trip Part 2: JFK – Maryland dan Perjalanan Naik Mobil

Seperti sebuah ke”pasti”an – “…kalau kita jalan-jalan di Eropa, pake public transport. Tapi kalau di Amerika, sewa mobil aja. It’s a car-oriented country,” kata Ei. Jadilah sepanjang 20 hari perjalanan di Amerika itu, ketika ada segmen perjalanan yang relatif pendek, kita sewa mobil. Dan, demikian juga lah perjalanan dari JFK ke Maryland itu dijalani. With a huge van. Rented through Budget. *yang paling murah soalnya..*

Awalnya, dengan 7 orang – 4 dewasa, 1 anak dan 2 bayi, kita berpikir bahwa berarti kita harus menyewa 7-seater. Karena masing-masing anak dan bayi harus pakai carseat-nya sendiri-sendiri. Tapi, we forgot about other important things: 4 koper gede, 1 carry-on bag, dan 2 stroller. Wakwaauuw! Akhirnya Dodge Caravan yang sebelumnya kita pikir bisa muat, ternyata nggak muat, dan kita terpaksa ganti mobil menjadi Chrysler Town & Country, yang bagasinya lebih guede. Setelah semua barang (dan orang dan bayi-bayi) masuk, we’re ready to go!

Continue reading

US Trip Part 1: CGK-JFK dan Terbang 24 Jam

Waktu mulai hamil Triya, salah satu hal besar yang jadi pikiran saya adalah soal traveling. Karena udah hamil, so there goes my chance of traveling… Apalagi kalau nanti sudah ada anak – wah, pasti harus nunggu anaknya agak besar sedikit baru bisa diajak jalan-jalan ya?? Tapi ternyata, where there is will and opportunity (ya iya laahh), there’s a way… Nena, Ei dan Triya went to the US!!! #lebay

Hehe, yah, maaf kalo postingan ini teramat sangat lebay, karena maklum, belum pernah ke Amerika, plus, ini bawa Triya yang kemarin masih 8 bulan. So, there were sooo many stories!

Visa Triya

Persiapan perjalanan dimulai dari pembuatan visa Triya. Sekarang aplikasinya semua harus dilakukan online, lewat website ini. Semua informasinya lengkap – if only you are willing to read thoroughly and carefully. :) Prosesnya kalau sedang tidak banyak yang apply makan waktu sekitar 5-10 hari kerja. Triya apply di bulan September akhir, jadi  jadwal interview bisa dapat dalam 1-2 hari, dan visanya sudah selesai dalam waktu seminggu saja. Dulu waktu saya apply, pas bulan Juni awal, jadi rame banget, dan untuk dapat jadwal interview aja harus nunggu 2 minggu. Well, I guess, ini rejekinya Triya… :)

Satu hal lagi yang worth noting adalah karena Triya masih di bawah 13 tahun, jadi untuk interview visa dia nggak perlu datang sendiri. Cukup orang tua atau wali yang sah aja yang datang untuk interview. Berhubung kebetulan saya dan Ei sudah punya visa, jadi cukup bawa passport kami berdua aja untuk ditunjukin di loket interview, dan akte kelahiran Triya sebagai bukti kalau Triya itu benar anak kami berdua. Hehe.

Persiapan terbang 24 Jam

Setelah visa di-approve, tiket dibeli. Sempet mikir untuk terbang naik Qatar yang murah buanget – sekitar USD8,000 (total ber-7, 4 dewasa, 1 anak, 2 infant – yes, we were a big traveling party!!). Tapi transitnya 2 kali, di Doha dan di Belgia, dan kemungkinan harus apply visa lagi untuk Belgia. Scratch that option. Akhirnya pilihan jatuh ke Cathay yang sedikit lebih mahal, tapi cuma transit 1 kali di Hong Kong dan kita nggak perlu visa lagi.

Untuk persiapan terbang selama 24 jam tersebut, saya sempat nanya-nanya via Twitter ke orang-orang. Akhirnya dapat tips dari 2 orang yang pernah (dan beberapa kali, bahkan!) traveling ke US dengan bayi di bawah 1 tahun. Berikut tips-nya yaa…

  • Don’t stress out. Karena kalau mamanya stress dan nggak tenang, nanti anaknya juga akan stress dan nggak tenang… :)
  • Bayi harus menelan pas take-off, dan descending. Untuk landing, berdasarkan pengalaman, nggak terlalu perlu, karena tekanan udaranya berubah justru pas descending – sekitar 45 menit sampai 15 menit menjelang landing. Triya biasanya cranky pada saat descending, tapi pas landing happy-happy aja. Kalau bayinya masih ASIX, disusuin aja. Kalau sudah bisa makan solid food, bisa makan biskuit atau snack aja.
  • Bawa pampers yang BUANYAAK! Entah kenapa, kalau lagi terbang, Triya jadi sering banget pup! Hehe.. Dalam perjalanan 14 jam, dia pupi 4-5 kali! Mungkin karena perbedaan tekanan udara kali yeee..
  • Bawa pengalih perhatian yang sedang-sedang saja jumlahnya. Misalnya mainan 3 buah, snack 2 kontainer kecil. Berhubung Triya cepet bosen, jadi dia lebih senang main-main dengan benda-benda selain mainannya.
  • Bawa makanan bayi yang cukup dan gampang dibawa-bawa. Misalnya, makanan bayi Heinz atau Gerber. Walaupun sudah order makanan bayi di pesawat, belum tentu dapat, dan kalau pun dapat, belum tentu sesuai dengan umur anak…
  • Bawa tisu kering dan basah yang cukup. Kemarin saya bawa tisu basah yang ukuran besar, dan tisu kering yang kemasan traveling itu – bukan yang kemasan kecil dan tisunya dilipat-lipat, jadi gampang, tinggal langsung tarik aja kalau ada yang perlu dilap.
  • Bawa baju ganti yang cukup. Kemarin saya bawa 2 – 1 untuk ganti di Hong Kong, dan 1 untuk ganti di JFK
  • Berhubung di pesawat suka dingin, jadi kemarin Triya pakai baju 2 lapis. Lapis pertama: onesie plus legging; lapis kedua: baju tidur model jumper tutup kaki gitu. :) it worked very well!

Nah, kira-kira demikian yang bisa di-share untuk persiapan terbang yang luamaaa itu. Setelah itu, it’s D-Day!

Penerbangan 24 jam itu…

….ternyata cukup manageable! Tapi, emang support system itu penting. :) Buat saya, support system terpenting saat itu adalah Ei. Knowing that he’s there with me – helps a lot. Jadi ada yang bisa gantian gendong Triya, bantuin nyuapin, nemenin pas ganti popok ke kamar mandi yang sempit itu, and just for holding your hand when you’re tired. :) Selain Ei, support system kedua adalah kakak ipar saya dan keluarganya yang juga ikut traveling bareng kita (jadi, sebenarnya trip ini adalah business trip Ei dan kakaknya, tapi keluarganya pada ngintil… Hehe). Seeing them sitting next to us, just as tired, dan kadang-kadang anak-anaknya agak cranky – juga helps a lot. Untuk tahu bahwa kita nggak sendirian kok… Dan nantinya kita bisa saling cerita, menghibur, dan ketawa. :)

Selama di perjalanan, Triya sama sekali nggak rewel. Berhubung flight kita jam 00.15, jadi dari jam 9, Triya udah tidur dan baru bangun pas mau boarding. Menjelang take off, Triya nenen, habis itu tidur lagi. Dia bangun setiap 2-3 jam untuk nenen atau makan, sisanya dia main-main. Kadang di atas pangkuan saya atau Ei, kadang kita dudukin aja dia di lantai pesawat, hehe.. She seemed to enjoy it very much!

Untuk masalah makan, emang harus 2 orang. Jadi 1 orang megangin Triya, dan 1 orang lagi nyuapin Triya. Atau, 1 orang megangin Triya, dan 1 orang lagi nyuapin bapak atau ibunya… Hehe.. Susah soalnya kalau harus makan sendiri-sendiri. Atau, ya, gantian makannya dan megangin Triyanya.

Untuk kenyamanan, kalau traveling jarak jauh bawa anak kecil atau bayi, sebaiknya begitu udah booking tiket, langsung telpon airline-nya, minta kursi bassinet. Terlepas dari apakah nanti bassinetnya akan dipakai atau nggak, tapi the extra leg room sangat bermanfaat… :) Berdasarkan pengalaman kita, baby bassinet is good to have… Untuk dipake naruh bayi pas lagi main-main atau mau disuapin. Tapi kalau lagi tidur, lebih baik dipangku aja. Karena kalau ditaruh di baby bassinet, pas lagi ada turbulence dan harus pakai seat belt, bayinya harus diangkat dari baby bassinet, dipangku, dan dipakaiin seat belt juga. Jadi kasihan kalau lagi tidur, jadi kebangun-kebangung… Lebih baik dipangku aja, dan udah langsung dipakaiin seat belt.

Jadi, kesimpulannya, ternyata terbang dengan bayi selama 24 jam itu nggak terlalu menyeramkan kookk.. Jadi kalau mau bawa bayinya jalan-jalan ke Amerika bulan depan, go ahead and enjoy the holiday!!!

Triya atiiiiittt!!!

As the saying goes, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga – demikian juga halnya dengan anakku tercintah. Sesehat-sehat Triya, akhirnya sakit juga. :) Memang sih, bukan topik yang super-duper menyenangkan ataupun istimewa, but I think it’s worth sharing. :D

Berawal dari imunisasi campak Triya sekitar 10 hari yang lalu. Karena vaksin campak itu adalah virus campak yang dilemahkan, jadi ibu dokter nanya apakah Triya sakit – misalnya flu atau batuk. Pada saat itu Triya sama sekali nggak menunjukkan tanda-tanda sakit, dan nggak habis sakit, jadi dengan yakin saya dan Ei menjawab, “Nggak dok, sehat, alhamdulillah…”. Ibu dokter pun tersenyum lebar, dan njuussss, in goes the vaccine.

Imunisasi hari Selasa – hari Rabu Triya masih cengar-cengir. Kita berdua udah happy-happy, karena sebelumnya sudah diperingati sama ibu dokter kalau setelah imunisasi campak ada kemungkinan demam atau diare atau muntah – dan setelah sehari ternyata Triya baik-baik saja.

Then comes hari Kamis. Triya mulai diare. Antara jam 3 sore sampai jam 6 sore, 3 kali diare – very runny stools juga. Selera makannya langsung menurun. Sekitar jam 7, setelah nenen dan cemil-cemil biskuit (that was the only thing she wanted to eat), mendadak muntah. Jam 8, tiba-tiba badannya mulai anget. Suhunya saat itu 39.4. Langsung dikasih Tempra, dan diminumin Pharolit yang memang sudah diresepin sama ibu dokter. Habis itu tidur.

Lewat tengah malam Triya diare lagi. Suhu badan belum menurun juga. Hari Jumat pagi suhunya 39.8, dan kita kasih Tempra lagi. Akhirnya menjelang siang suhunya turun, dan sore sudah 37.5. Pada saat itu kita lega banget karena demamnya sudah turun, walaupun diare masih terus berlanjut dengan frekuensi yang berkurang.

Continue reading

#mpasi6bln

Sebulan yang lalu, ketika Triya 6 bulan, saya nge-twit soal #mpasi6bln. Isinya tentang apa-apa saja yang saya pelajari dan saya siapkan buat Triya pas dia mulai MPASI 6 bulan.

Sebelum teman-teman mulai membaca list-nya, please remember a couple of things. Pertama, jangan panik!! MPASI itu nggak susah kok… Cuma memang perlu penyesuaian aja, karena sebelumnya makanannya (baca: ASI-nya) instan aja, sekarang perlu persiapan yang cukup. :D Kedua, nggak perlu heboh beli-beli barang-barang beraneka rupa! Beli blender, beli food grinder, beli boon squirt, dan lain-lain, dan kawan-kawan… Nope… Santai ajaa.. Cukup modal blender, panci, kukusan atau saringan besi aja bisa kookkk nyiapin MPASI yang bergizi. Nyuapinnya juga cukup pakai mangkok plastik dan sendok plastik bayi ajaa, nothing fancy. :) Ketiga, be sensitive and trust your kid. Kalau kelihatannya dia nggak mau makan lagi, ya jangan dipaksa. Kalau kelihatannya masih lahap, terusin aja. Kalau mulai ogah suap, mungkin dia haus? Mungkin celananya basah? You’ll know. :)

Jadiii, kalau sudah siap, berikut ini twit-nya yaa… Semoga bermanfaat!

  1. idealnya, #mpasi6bln tidak dimulai dengan makanan yang manis atau pakai gula supaya selera makan bayi tidak selalu mau yang manis saja
  2. tapi, triya waktu itu pertama kali makan solids adalah biskuit Farley! Kenapa? karena udah dibeliin neneknya.. :D #mpasi6bln
  3. 4 hr pertama: porsi biskuit 1/3 keping dicampur ASIP. 4 hari kedua: 1/2 keping dicampur ASIP. Antara 1-2x sehari. #mpasi6bln
  4. stlh biskuit, pisang ambon yang dikerok pk sendok. ternyata Triya doyan, jadi sehari 2x @1/2 pisang. #mpasi6bln
  5. stlh pisang, bubur susu beras merah. Beras merahnya organik, giling sendiri, dan dimasak pakai air. Makannya dicampur asip. #mpasi6bln
  6. u/ variasi, bubur beras merahnya dicampur pakai puree apel atau puree pir. Bisa juga dgn puree labu parang/kabocha. #mpasi6bln
  7. cara bikin beras merah giling: cuci bersih, sangrai sampai kering, blender sampai halus, masukkan ke dalam airtight container.#mpasi6bln
  8. masaknya: 1sdm munjung bubuk beras merah, 150-200cc air. Diaduk sampai mendidih dan kental. Dinginkan dulu, baru tambahkan asip. #mpasi6bln
  9. cara bikin puree apel/pir/kabocha: dikupas, dipotong kecil2, taruh di wadah, kukus. Tunggu dingin, blender sampai halus. #mpasi6bln
  10. u/ puree, biasanya disimpan di airtight container, masuk kulkas, karena bisa u/ 2-3 kali makan/campuran bubur beras. #mpasi6bln
  11. stlh bubur beras merah, bubur beras putih. Bikinnya pakai nasi yang sudah tanak, dimasak lagi dengan air, perbandingannya 1:2.#mpasi6bln
  12. Bubur beras putih biasanya dicampur pakai irisan bayam. Dimasukinnya pas buburnya sudah lembut. Stlh selesai, buburnya disaring. #mpasi6bln
  13. U/ membuat bubur lebih lembut lagi, tambahkan kaldu. Saya mulai dgn kaldu ayam, tp bisa juga kaldu ceker / iga sapi. #mpasi6bln
  14. Bisa juga buburnya pakai daging. Caranya daging beku diparut sampai halus, masak bareng buburnya. Atau, daging matang diblender. #mpasi6bln
  15. bubur kaldu kadang saya tambahkan puree zuchini atau brokoli untuk variasi rasa. Caranya sama seperti buat puree buah.#mpasi6bln
  16. pas berganti rasa dari manis (pisang&buah) ke tawar (bubur kaldu&sayur), bayi mungkin terlihat “tidak suka”, dan ini wajar.#mpasi6bln
  17. Dia hanya menyesuaikan dengan rasa baru kok. Jgn tergoda u/ tambah gula garam ya. Lama2 dia terbiasa dengan rasanya, dan lahap. #mpasi6bln
  18. U/ yg tertarik baby-led weaning, brokoli kukus sepertinya yg paling ideal. Empuk, ada tekstur, enak, mudah dipegang & tdk messy.#mpasi6bln
  19. pokoknya, u/ mulai #mpasi6bln, yg penting sabar. Bayi jg butuh penyesuaian u/ mulai makanan padat. Jgn cepat menyerah yaa!#mpasi6bln
  20. dan, demikian dulu sharing tentang #mpasi6bln-nya sore ini. :) semoga bermanfaat!

ASI: Cukup apa nggak??

Walaupun badannya kecil, tapi untuk ngasih makan Triya ternyata penuh lika-liku. Saya yakin semua ibu pasti pernah mengalami ini, dan mungkin baca tulisan ini sambil senyam-senyum sendiri sambil mengkaitkan dengan pengalamannya sendiri.. :) Apa saja sih lika-likunya? Dan kenapa juga saya memutuskan untuk sharing di sini?

Pertanyaan klise: ASI – Cukup atau nggak?

Dua puluhan tahun yang lalu, jaman ketika saya baru dilahirkan, dan mungkin sebagian besar teman-teman yang membaca ini baru dilahirkan, “dunia ibu-ibu” nggak seperti sekarang. Arus yang kencang pada saat itu adalah susu formula – ada yang sejak lahir, ada yang beberapa bulan setelah lahir. Saat itu, bayi mulai dikasih makan pisang di umur 4 bulan – itulah norma yang umum berlaku. ASI memang diberikan, tapi – meminjam kata kakak ipar saya – dikasihnya yaa selow-selow aja, alias nggak ngoyo seperti kebanyakan ibu-ibu generasi Y seperti saya sekarang ini.

Sekarang, tren-nya adalah ASI eksklusif selama 6 bulan pertama – seperti rekomendasi WHO. Ini hal yang sangat baru dan terdengar cukup aneh – terutama untuk ibu saya yang terakhir kali update soal ASI-nya tahun 1987. Emangnya ASI aja cukup, Nut? Pertanyaan ini bisa terlontar seminggu 4 kali… Dan, jujur aja, sangat bikin ngeper karena Triya memang badannya nggak super besar…

Tentang ASI eksklusif ini memang penuh dengan diskusi, dan diskusinya dipenuhi dengan kegalauan. Ada ibu-ibu yang (alhamdulillah banget) bisa ngasih ASI eksklusif selama 6 bulan pertama – yang anaknya dibilang lulus dan mendapatkan ijasah S1 ASI; ada yang berhasil ngasih ASI sampai 1 tahun pertama – S2 ASI; dan ada juga yang berhasil sampai 2 tahun penuh – S3 ASI. Keren yaa?? Sayangnya, nggak semua ibu bisa begitu. Dan kadang, ini bukan karena pilihan mereka, tapi karena keterpaksaan mereka.

Anyways, kembali lagi ke Triya, mulai bulan ketiga, ibu saya mulai khawatir tentang cukup/tidaknya ASI saya karena menurutnya Triya semakin rewel. Tidurnya juga pendek-pendek. Dan menurut mamah, penjelasannya adalah: ASI saya nggak cukup. Cukup mah, insyaallah cukup… ASI kan ngikutin kebutuhan bayi, jadi insyaallah cukup…. - I find myself saying that all the time. Baik ke mamah, ataupun ke diri saya sendiri. Pasti cukup. Insyaallah cukup. Dan mamah masih keukeuh sama pendiriannya, saya pada pendirian saya. Adu mulut? Sering banget. Berantem? Yah, beberapa kali lah…

Continue reading

Look, mommy, I swim!

Yippiee!! Akhirnya Triya berenang juga untuk pertama kalinya! Sebenarnya, berenangnya sudah 2 bulan yang lalu, waktu umur Triya kira-kira 3,5 bulan. Walaupun banyak juga bayi-bayi yang mulai berenang lebih cepat dari Triya, paling nggak di kolam renang waktu Triya berenang, Triya lah yang paling kecil. :D

Awalnya kepikiran untuk mengajak Triya berenang sebenarnya karena bak mandi. Karena di bak mandi itu Triya kelihatannya hepi banget! Kakinya mulai nendang-nendang, dan dia jarang nangis kalau dimandikan di bak mandinya. Jadinya Ei dan saya mulai berpikir, waah, Triya seneng berenang yaaa…

Nah, waktu umur Triya baru 2 minggu, mama saya iseng-iseng membelikan Triya baju renang (!!), dari bahan wetsuit pula (!!!). Waktu baru dibelikan, baju renangnya super kegedean (ya iya laah..), tapi alhamdulillah, pas mau dipakai, baju renangnya cuma sedikiiit kegedean.

Percobaan pertama berenang, sukses. Triya hepi banget! Dan, karena airnya cukup hangat, jadinya dia berenang lumayan lama, sekitar 20 menit. Dengan aksi foto-foto yang luar biasa banyak saking bapak dan mamamnya excited Triya bisa langsung menikmati berenang… :D

Strategi yang Ei dan saya siapkan, dan ternyata cukup sukses, adalah:

  • Sebelum berenang Triya harus disusui dulu – supaya kenyang dan nggak cranky
  • Setelah itu, pakai baju renangnya
  • Ketika pertama kali masuk ke air, harus sedikit-sedikit. Pokoknya Triya nggak boleh kaget. Jadi, pertama Triya saya pangku di pinggir kolam, hanya kakinya saja yang masuk air. Setelah itu, air kolam renangnya mulai diciprat-ciprat ke lutut, paha, perut, dan dibasuh ke mukanya. Setelah itu baru Triya mulai masuk ke air, sedikit-sedikit juga.
  • Untuk bayi, setahu saya berenangnya tidak boleh terlalu lama. Cukup 15-20 menit saja. Itu pun juga harus memperhatikan kondisi bayi – kedinginan atau tidak. Begitu tangannya mulai dingin, langsung keluarkan dari air.
  • Setelah itu, Triya langsung dihanduki, dan langsung ganti baju yang kering.
  • Jika memungkinkan, mamamnya langsung ganti baju yang kering juga dan langsung menyusui Triya. Atau, ganti baju kering dan gendong-gendong Triya supaya tetap nyaman
  • Have fun! Pokoknya muka kita juga harus selalu senyum lebar, supaya bayi juga tahu bahwa ini menyenangkan.

Well, untuk para mama dan papa yang mau berenang, selamat bersenang-senang!

24 Januari 2012 – the day my life starts anew

Triya lahir tanggal 24 Januari 2012 jam 02.28 dini hari, di KMC. Berat badannya 2530gr, dan panjangnya 46cm. Hari itu adalah hari pertama di tahun Naga – yang katanya bawa hoki, amiiin… Sekarang Triya sehat, alhamdulillah. Tapi kelahiran Triya tidak semulus yang diharapkan. Sejak tanggal 22 Januari pagi ternyata ketuban saya sudah pecah – without me realizing it. Baru ketahuan kalau ketubannya sudah tua pada saat Triya lahir dan ternyata air ketuban saya sudah berwarna hijau dan sudah kental… Akibatnya, Triya tidak langsung menangis, dan harus disedot dulu paru-parunya untuk mengeluarkan sisa air ketuban yang mungkin tertelan.

Setelah paru-parunya bersih, Triya menangis kencang, dan langsung dibawa ke ruang perinatal untuk observasi nafasnya. IMD (Inisiasi Menyusui Dini) jadi terpaksa tidak dilakukan, dan setelah selesai saya pun dikirim ke kamar untuk istirahat.

Sekitar jam 10, Ei dan saya dipanggil dan diberi tahu bahwa kondisi Triya masih belum prima. Nafasnya sudah normal, tetapi masih hipotermia sehingga harus diletakkan di dalam inkubator dulu. Sore harinya, suhu Triya sudah stabil, tapi Triya kuning dan kadar bilirubinnya mencapai 13,5 (normalnya di hari pertama hanya 5, dan biasanya baru mulai kuning di hari ketiga). Triya pun harus menjalani terapi sinar dan disuntik antibiotik 2x sehari. Rooming in was definitely not an option.

Dokter yang menangani Triya waktu itu menyatakan dia merasa kurang tepat untuk melanjutkan perawatan Triya dan mengusulkan agar Triya dialihrawatkan ke dokter lain yang spesialisasinya bayi baru lahir / perinatolog. Bikin drop? Jelas. Tapi keyakinan harus tetap ada dooong.. :D Jadilah Triya alih rawat ke dokter Anita – dan Ei dan saya sepakat bahwa itu adalah salah satu keputusan terbaik yang dibuatkan untuk kita bertiga. Dokter Anita orangnya sangat lugas, tapi hangat. Penjelasannya komprehensif, dan bicara dengan kita tanpa ada nada yang merendahkan sama sekali. Orangnya juga positif, banyak senyum, dan banyak ngobrol. Bottom line, kami berdua puas banget sama dokter Anita dan semua keputusan yang direkomendasikan ke kita berdua sehubungan dengan Triya.

Continue reading